Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?
Lebih dalam lagi, dalam hadis qudsi Allah berfirman:
أَنَا الرَّحْمَنُ، وَهِيَ الرَّحِمُ، شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ
“Aku adalah Ar-Rahman, dan rahim (kekerabatan) Aku ciptakan dari nama-Ku. Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barang siapa memutuskannya, Aku akan memutusnya.” (HR Bukhari)
Namun tantangan terbesar justru muncul ketika hubungan tidak berjalan baik. Tidak semua keluarga hangat, tidak semua kerabat membalas kebaikan. Di sinilah kualitas iman diuji.
Rasulullah menegaskan:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang sekadar membalas, tetapi yang tetap menyambung ketika diputuskan.” (HR Bukhari)
Bahkan ketika kita diperlakukan buruk, Rasulullah tetap memberi kabar gembira:
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ
“Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau menaburkan abu panas ke wajah mereka…” (HR Muslim)
Ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahim bukan soal perasaan, tetapi pilihan iman.
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjadi pelajaran besar. Meski disakiti oleh kerabatnya, ia tetap memaafkan dan membantu. Sikap ini sejalan dengan firman Allah:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?” (QS An-Nur: 22)
Konsistensi
Hari ini, menjaga silaturahim sebenarnya tidak sulit. Tidak harus dengan pertemuan besar. Cukup dengan pesan singkat, telepon, atau sekadar menanyakan kabar.
Yang sulit bukan caranya, tetapi konsistensinya. Karena itu, jangan jadikan silaturahim sebagai agenda musiman. Jadikan ia sebagai bagian dari hidup. Jangan menunggu momen, tapi ciptakan momen.
Jika kita ingin hidup lebih berkah, hati lebih tenang, dan hubungan lebih hangat, maka rawatlah silaturahim. Bahkan ketika tidak ada alasan dunia untuk melakukannya.
Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa sering kita bertemu, tetapi seberapa tulus kita menjaga hubungan karena Allah. Wallahu a’lam bish shawab.[]
KH Bachtiar Nasir






