#Ramadhan 1447 HOASE

Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?

Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim sering hanya terasa hangat saat Ramadan dan Syawal? Setelah itu, perlahan memudar, bahkan hilang tanpa terasa. Padahal, takwa bukan ibadah musiman, dan silaturahim bukan tradisi tahunan.

Takwa adalah bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia seharusnya hidup dalam setiap keputusan, ucapan, dan sikap kita. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 102)

Jika takwa benar-benar tertanam, ia akan melahirkan akhlak yang konsisten, termasuk dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Begitu pula dengan silaturahim. Ia bukan sekadar ritual maaf-maafan saat Idulfitri atau ajang kumpul keluarga setahun sekali. Silaturahim adalah komitmen jangka panjang untuk tetap terhubung, peduli, dan hadir dalam kehidupan orang-orang terdekat kita, bahkan ketika tidak ada momen besar.

Al-Qur’an menegaskan bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ketakwaan:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan…”(QS An-Nisa: 1)

Bahkan, Allah memperingatkan keras bagi mereka yang merusak hubungan tersebut.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22)

Ironisnya, banyak orang begitu hangat saat Syawal, tetapi kembali dingin setelahnya. Grup WhatsApp keluarga kembali sepi, pesan tak lagi dibalas, dan kabar kerabat sering terlewat. Silaturahim akhirnya hanya menjadi formalitas, bukan kebutuhan ruhani.

Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat nyata.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR Bukhari dan Muslim)

Artinya, silaturahim bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan nyata dalam hidup.

1 2Laman berikutnya
Back to top button