#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Israel Habisi Orang-Orang yang Mampu Akhiri Perangnya

Oleh: Mahjoob Zweiri, Akademisi dan Analis Politik Senior Spesialisasi Iran dan Politik Timur Tengah.

Dalam politik internasional, perang umumnya dianggap berakhir ketika konflik memuncak dan para pihak beralih ke jalur diplomasi. Namun, diplomasi membutuhkan negosiator yang memiliki wewenang untuk berunding serta mengambil keputusan. Jika figur-figur tersebut dihilangkan, perang tidak hanya kehilangan mediator potensial, tetapi juga menutup peluang kesepakatan damai.

Penilaian mantan Kepala Intelijen Luar Negeri Inggris, Sir John Sawers, kepada The Financial Times pada awal September 2026 memperkuat hal ini. Sawers menyatakan bahwa Israel secara sengaja membunuh Ali Larijani. Menurutnya, Larijani ditargetkan bukan karena memimpin upaya perang Iran, melainkan karena ia termasuk sedikit figur Iran yang mampu mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak.

Penilaian dari seorang pejabat intelijen karier tersebut memicu pertanyaan penting. Apakah pembunuhan Larijani merupakan bagian dari pola Israel untuk menyingkirkan tokoh-tokoh kunci pada saat peluang negosiasi terbuka?

Sebuah Pola, Bukan Kejadian Kebetulan

Pembunuhan kepala pemerintah atau komandan militer menciptakan kekosongan kepemimpinan yang akan segera diisi oleh pejabat lain. Namun, pembunuhan seorang negosiator menciptakan kekosongan yang lebih berbahaya, yaitu hilangnya sikap moderat dalam perundingan.

Pengganti negosiator yang tewas jarang memiliki fleksibilitas yang sama. Sosok pengganti umumnya bersikap lebih keras karena kelompok garis keras merupakan pihak yang bertahan dan mewarisi kekuasaan. Akibatnya, alur diplomasi terputus dan pengerasan sikap yang terjadi ditafsirkan oleh kedua pihak sebagai bukti bahwa diplomasi sejak awal tidak pernah memungkinkan.

Pola ini memiliki rekam jejak panjang. Pada September 1948, Count Folke Bernadotte, mediator PBB untuk Palestina, dibunuh di Yerusalem oleh anggota kelompok bawah tanah Zionis, Lehi. Bernadotte saat itu sedang mengupayakan usulan gencatan senjata dan pembagian wilayah, namun para pembunuhnya menganggap kompromi sebagai bentuk pengkhianatan.

Logika serupa muncul pada November 2020 ketika Mohsen Fakhrizadeh, tokoh utama program nuklir Iran, dibunuh di dekat Teheran. Pembunuhan yang terjadi beberapa minggu setelah terpilihnya Presiden AS Joe Biden tersebut dinilai banyak pihak bukan sekadar upaya pembatasan senjata nuklir, melainkan langkah sengaja untuk menghalangi diplomasi.

Pembunuhan Larijani pada Maret 2026 mengikuti pola serupa. Dua dekade lalu, ia menjabat sebagai negosiator nuklir Iran dan membela kesepakatan 2015 saat menjadi Ketua Parlemen. Setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama perang, Larijani menjadi pengambil keputusan efektif di Iran. Para diplomat Barat mengarakterisasikannya sebagai sosok yang tegas namun pragmatis, figur yang tepat untuk merundingkan jalan keluar konflik.

Strategi ini juga diterapkan terhadap kelompok non-negara. Pada Februari 1992, Israel membunuh Sekretaris Jenderal Hizbullah, Abbas al-Musawi, yang kemudian digantikan oleh Hassan Nasrallah. Di bawah kepemimpinan Nasrallah selama tiga dekade, Hizbullah berkembang menjadi kekuatan bersenjata non-negara paling tangguh di kawasan tersebut.

Pada Juli 2024, Israel membunuh Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas sekaligus negosiator utama dalam perundingan gencatan senjata Gaza. Kepemimpinan kemudian beralih kepada Yahya Sinwar, dan jalur negosiasi tidak pernah pulih sepenuhnya. Beberapa minggu kemudian, Israel juga membunuh Nasrallah.

Dalam setiap kasus, target pembunuhan adalah figur koordinasi utama lawan. Menghilangkan figur tersebut menghasilkan kekacauan jangka pendek sekaligus memunculkan penerus yang semakin enggan bernegosiasi.

Dari sudut pandang strategis Israel, langkah ini dinilai sistematis. Bagi negara yang menganggap sistem Iran sebagai ancaman eksistensial, hasil yang diharapkan adalah keruntuhan sistem tersebut, bukan akomodasi melalui negosiasi. Kesepakatan yang dimediasi oleh figur pragmatis akan menstabilkan tatanan yang ingin dijatuhkan Israel.

Dampak pembunuhan tokoh moderat juga terlihat di internal Iran. Tekanan dari luar memperlebar jurang antara kepemimpinan politik yang menyadari dampak perang dan faksi keamanan yang menganggap setiap serangan sebagai pembenaran untuk terus melawan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button