Innalillahi, Ulama Kharismatis NTB TGH Turmudzi Badaruddin Wafat
Mataram (Suaraislam.id) — Innalillahi wa innailaihi raji’un. Ulama kharismatis asal Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin (90 tahun), berpulang ke rahmatullah. Tuan Guru Bagu wafat di RSUD Provinsi NTB pada Kamis (15/10/2026) pukul 13.37 WITA.
Kabar duka tersebut disampaikan secara resmi melalui akun Instagram PWNU NTB, yaitu @pwnu_ntb_official.
“Innalillahi wainnailaihi raaji’un. Semoga guru kita tercinta husnul khatimah. Beliau selalu menjadi penyejuk, pembimbing, dan pemimpin luar biasa untuk jam’iyyah dan jamaah,” tulis akun tersebut pada Kamis (15/10/2026).
Kepergian ulama sepuh sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat NTB, khususnya dunia pendidikan Islam dan kehidupan keagamaan.
Tuan Guru Bagu dikenal luas berkat dedikasinya dalam mengelola pesantren dan membina umat. Kiprah pengabdiannya juga mencakup pelayanannya di berbagai organisasi keagamaan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Semasa hidupnya, almarhum mengemban amanah penting sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Oman (PBNU) dan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB.
Pengabdian panjang tersebut menjadikan almarhum sebagai salah satu figur sentral dalam perjalanan pendidikan Islam di NTB. Segala ilmu, nasihat, serta keteladanan yang beliau wariskan akan terus dikenang oleh para santri, murid, dan masyarakat luas.
Sekilas tentang Tuan Guru Bagu
Dilansir dari NU Online, almarhum merupakan seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda di Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, NTB.
Almarhum lahir pada 1 April 1936 dari kalangan keluarga Perwangse atau kaum bangsawan suku Sasak. Gelar “Lalu” yang disematkan di depan namanya merupakan penanda latar belakang kebangsawanan tersebut.
Ayah almarhum, Tuan Guru Haji Lalu (TGHL) Badarudin, adalah seorang ulama berpengaruh yang merintis pengembangan pesantren melalui kegiatan pengajaran di sebuah langgar atau musala kecil di kediamannya.
“Dari langgar kecil itu kemudian jadi pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi di NTB,” lanjut keterangan dalam arsip tersebut.
TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin memperoleh pendidikan agama dasarnya langsung dari kedua orang tuanya. Pada 1944, ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, lalu melanjutkan studinya ke Madrasah Mu’allimin Darul Qur’an di Bengkel, Lombok, yang diasuh oleh TGH Soleh Chambali pada periode 1948–1952.






