RESONANSI

Islam, Tradisi dan Budaya

Prinsip ini sebenarnya sudah sangat relevan untuk kondisi masyarakat kita sekarang. Banyak orang ingin menjaga tradisi demi identitas budaya, tetapi di saat yang sama tidak ingin terjebak pada praktik yang menodai tauhid. Masalahnya, batas antara budaya dan keyakinan seringkali kabur di benak masyarakat. Ada tradisi yang sebenarnya murni nilai sosial, tetapi diberi makna mistik. Ada pula tradisi yang awalnya diniatkan sebagai penghormatan budaya, tetapi akhirnya diperlakukan sebagai kewajiban spiritual. Karena itulah kita butuh dorongan keberanian untuk menempatkan tradisi di posisi yang proporsional.

Menghormati budaya bukan berarti mengamini seluruh isinya. Meninggalkan tradisi yang bertentangan dengan agama bukan berarti tidak menghargai leluhur. Sikap kritis justru menjadi tanda bahwa kita ingin tradisi berkembang dengan sehat, bukan dibiarkan berjalan apa adanya tanpa arah. Jika budaya membuat masyarakat lebih solid, lebih beradab, dan lebih dekat kepada nilai-nilai Islam, maka tidak ada alasan untuk menolak. Tetapi ketika budaya mulai menambah-nambahkan sesuatu pada agama, atau menggeser keyakinan dari tempat yang semestinya, saat itulah agama harus menjadi filter yang jelas.

Keseimbangan antara Islam dan tradisi hanya bisa dijaga dengan kejujuran. Kita tidak perlu menyangkal identitas budaya kita, tetapi juga tidak boleh mengorbankan prinsip agama demi sesuatu yang sebenarnya lahir dari kebiasaan manusia. Tradisi juga akan tetap menjadi ruang ekspresi kita sebagai bangsa yang majemuk, sementara agama akan tetap menjadi kompas yang memastikan langkah kita ini tidak salah arah. Selama keduanya ditempatkan sesuai porsinya, budaya tidak akan menenggelamkan syariat, dan syariat tidak akan menghapus budaya, bahkan keduanya justru bisa berjalan beriringan.[]

*Penulis merupakan pengamat sosial dan politik, dari Kota Cirebon.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button