Israel Bawa Perangnya terhadap Palestina ke Era AI
Coba pertimbangkan implikasinya. Seorang mahasiswa bertanya kepada chatbot AI apakah Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata di Gaza.
Seorang jurnalis meminta penilaian mengenai tindakan Israel berdasarkan hukum internasional. Atau seorang pemilih mencari penjelasan netral mengenai konflik Israel-Palestina.
Jika sebuah lembaga riset rekaan berhasil menyisipkan materinya ke dalam ekosistem informasi, jawaban berbasis AI dapat mereproduksi bingkai narasi tersebut tanpa pengguna pernah tahu bahwa sumbernya adalah buatan.
Risiko tersebut bukanlah sekadar pengandaian. Dalam pengujian yang dilakukan Politico, baik ChatGPT maupun Perplexity mengutip materi Hanover saat menjawab pertanyaan netral tentang Gaza, anti-Zionisme, dan anti-Semitisme.
Mesin tidak serta-merta memahami bahwa sebuah lembaga yang tampak otoritatif sebenarnya fiktif. Mesin hanya membaca teks, kutipan, statistik, dan klaim yang diulang-ulang.
Jika materi tersebut telah dioptimalkan secara sengaja untuk penemuan dan sintesis, propaganda dapat memperoleh tampilan sebagai pengetahuan yang independen. Hal inilah yang membuat insiden ini sangat mengkhawatirkan.
Selama bertahun-tahun, Israel dan para pendukungnya telah berjuang keras membentuk kosakata yang digunakan untuk mendiskusikan warga Palestina. Kata-kata seperti “keamanan,” “terorisme,” “hak membela diri,” serta hak berdirinya Israel sering kali mendominasi perbincangan.
Sebaliknya, isu pendudukan, perluasan permukiman, penggusuran, blokade, dan hak menentukan nasib sendiri bagi warga Palestina harus berjuang keras untuk mendapatkan bobot politik yang seimbang.
Era digital pada awalnya sempat memberi ruang bagi warga Palestina untuk menerobos para penjaga pintu (gatekeeper) informasi tradisional. Media sosial, jurnalisme independen, dan rekaman video warga dari Gaza serta wilayah pendudukan memungkinkan informasi menjangkau audiens global tanpa melewati lembaga media arus utama.
Namun, respons yang muncul kini bergerak lebih jauh. Strateginya tidak lagi sekadar mengontrol apa yang dilihat orang, melainkan memengaruhi sistem yang menentukan informasi apa yang akan diterima masyarakat. Ini merupakan bentuk perang narasi yang jauh lebih ambisius.
Penyingkapan dokumen FARA menjadi sangat krusial karena membuktikan pentingnya persyaratan transparansi. Para peneliti melacak operasi Hanover melalui dokumen yang diajukan oleh Piro mengenai pekerjaan situs web lembaga tersebut.
Jejak tersebut mengarah pada operasi Havas Media di Jerman yang mengelola akun pemerintah Israel dalam skala lebih besar, hingga berujung pada LaPam.






