Jelang Muktamar V, Wahdah Perkuat Wasathiyah dan Kebangsaan
“Dinasti politik merajalela bukan hanya nasional bahkan sampai ke tingkat desa, menghambat sirkulasi kepemimpinan dan membuat akal sehat tidak berjalan,” ujarnya.
Karena itu, Ridho menekankan pentingnya menghadirkan pemimpin yang memiliki integritas, moralitas, dan keimanan yang kuat agar kekuasaan tetap berada dalam koridor nilai-nilai etika.
“Kita membutuhkan pemimpin yang beriman dalam memimpin kita. Seberapa kuatnya kita beribadah kalau diuji dengan kekuasaan belum tentu bisa selamat. Maka kita perlu membangun kepemimpinan berintegritas, ibadah mengendalikan kekuasaan,” katanya.
Perspektif kebangsaan juga disampaikan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Chirzin, yang menegaskan bahwa keislaman dan keindonesiaan merupakan dua hal yang saling menguatkan.
Menurutnya, Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan menjadi wadah bersama dalam mewujudkan kemaslahatan bangsa.
“Kesatuan antara keislaman dan keindonesiaan tidak bisa dipisahkan, dan pemuka agama sebaiknya menghadirkan agama sebagai perekat persatuan dan kebersamaan yang menembus batas agama maupun ideologi,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pemuka agama memiliki peran strategis sebagai jembatan dialog di tengah masyarakat majemuk dengan mengedepankan nilai kalimatun sawa serta semangat gotong royong.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Provinsi D.I. Yogyakarta, KH Machasin, menilai tantangan terbesar bangsa saat ini adalah menjaga harmoni sosial di tengah meningkatnya krisis kepercayaan dan potensi polarisasi.
“Merawat harmoni itu persoalan besar, dan tantangannya adalah ketidakpercayaan bahwa kita bisa hidup bersama, sehingga keadilan dan moderasi sangat penting untuk mencegah sikap ekstremisme,” tuturnya.
Menurut Kiai Machasin, penguatan sikap moderat atau wasathiyah harus berjalan seiring dengan penegakan keadilan sosial. Ketika rasa keadilan melemah, pemuka agama bersama seluruh elemen bangsa harus hadir melalui keteladanan moral, keterbukaan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui rangkaian Dialog Kebangsaan di Yogyakarta, Wahdah Islamiyah berharap dapat memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas, memperkokoh persatuan nasional, serta menghadirkan Indonesia yang sehat hati, sehat jasmani, sehat ekonomi, dan penuh keberkahan sebagai semangat menyongsong Muktamar V Wahdah Islamiyah. []






