#Lawan IslamofobiaOPINI

Kebencian Jadi Hiburan Harian di India, Kita Ini Muslim atau Mujrim?

Saat kekerasan terhadap Muslim menjadi tontonan publik, politik mayoritarian India telah mengubah kebencian menjadi hiburan dan keheningan menjadi bentuk keterlibatan.

Jadi saya kembali pada pertanyaan: Apakah kita Muslim atau mujrim? Mengapa kita harus hidup dalam pengadilan setiap hari sementara para pembunuh bebas berkeliaran? Mengapa kematian anak-anak kita dihapus sementara negara merayakan “Amrit Kaal” (janji kemakmuran disertai dengan penindasan minoritas)? Jawabannya bukan hanya untuk Muslim, tetapi untuk mayoritas India: apakah mereka akan terus menonton kebencian sebagai serial favorit mereka, atau akhirnya mematikan layar?

Karena ketika kebencian menjadi satu-satunya bentuk hiburan nasional, tulisan penutupnya tidak hanya akan bergulir di atas mayat Muslim — tetapi di atas kematian Republik itu sendiri. Dan sejarah tidak akan bertanya apakah Anda Hindu atau Muslim, kanan atau liberal; ia hanya akan bertanya mengapa masyarakat yang membanggakan diri sebagai beradab, mengubah kekejaman menjadi komedi dan keheningan menjadi persetujuan.

Pertanyaan bagi mayoritas India kini bukan lagi tentang toleransi atau sekularisme; tetapi apakah mereka masih bisa mengenali kemanusiaan pada tetangganya.

Jika hari ini Anda bertepuk tangan saat Muslim dihukum sebagai mujrim, maka besok Anda akan terbangun untuk mendapati bahwa bangsa yang Anda soraki telah berubah menjadi penjara Anda sendiri — dan saat itu, tawa kebencian akan menjadi satu-satunya suara yang tersisa di republik ini.[]

*Ismail Salahuddin adalah penulis dan peneliti berbasis di Delhi dan Kolkata. Ia belajar di bidang Social Exclusion and Inclusive Policy di Jamia Millia Islamia.

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button