Kemenangan Spanyol di Piala Dunia dan Gelombang Solidaritas untuk Palestina
Lamine Yamal dan Bendera Palestina
Ada pula hal menyentuh saat melihat Lamine Yamal—salah satu bintang muda paling bersinar dalam sepak bola dunia—mengibarkan bendera Palestina saat perayaan Barcelona setelah menjuarai La Liga.
Itu memang hanya sebuah isyarat kecil di tengah lautan penderitaan rakyat Palestina. Namun, simbol memiliki arti yang sangat mendalam.
Terlebih ketika begitu banyak institusi berpengaruh bekerja keras membuat isu Palestina seolah tidak terlihat. Di sana ada Yamal yang berada di puncak kesuksesan, mengangkat tinggi bendera dari sebuah bangsa yang penderitaannya kerap diminta untuk dilupakan.
Tadi malam, ia mengenakan seragam Spanyol di final Piala Dunia lalu keluar sebagai juara dunia.
Messi, Tembok Barat, dan Perbedaan Simbol
Di sisi lain berdiri Argentina, bangsa sepak bola luar biasa yang dipimpin oleh pemain terbaik pada generasinya, Lionel Messi. Namun, di sinilah Gaza kembali memasuki emosi sebagian dari kami.
Sebuah foto Lionel Messi di Tembok Barat di Yerusalem Timur yang diduduki Israel telah beredar luas. Foto itu diambil ketika Barcelona berkunjung ke wilayah tersebut pada tahun 2013, jauh sebelum bencana kemanusiaan saat ini terjadi.
Meskipun demikian, gambar sering kali memiliki kehidupan sendiri yang melampaui konteks pembentukannya. Gaza telah mengubah cara banyak orang memandang foto tersebut.
Kontrasnya dengan Lamine Yamal terasa sangat mencolok. Di satu sisi terdapat foto Messi di Tembok Barat, sedangkan di sisi lain terdapat foto Yamal mengibarkan bendera Palestina pada momen terbaik karier mudanya.
Momen, keadaan, dan niat keduanya memang berbeda. Namun, simbol tetap memiliki maknanya tersendiri.
Bagi mereka yang pandangan dunianya telah diubah oleh Gaza, sulit untuk tidak merasakan kekuatan emosional dari perbedaan tersebut.
Politik Javier Milei
Di balik sosok Messi, terdapat pula dinamika politik Presiden Javier Milei. Presiden Argentina tersebut telah menunjukkan keberpihakannya secara terang-terangan.
Ia merangkul Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan bahkan menyebut dirinya sebagai “presiden paling Zionis di dunia”. Hal itu disampaikan tepat pada masa ketika rakyat Palestina di Gaza mengalami kehancuran dahsyat.
Para pemain Argentina tentu tidak bertanggung jawab atas tindakan Milei, dan rakyatnya tidak bisa disamakan dengan sang presiden. Namun, politik tersebut tidak sepenuhnya dapat dipisahkan dari emosi penonton saat menyaksikan pertandingan.






