Kemenangan Spanyol di Piala Dunia dan Gelombang Solidaritas untuk Palestina
Suara Argentina di PBB
Ada pula pemungutan suara di PBB yang baru terjadi, yang mengungkap hal menarik meski tidak berkaitan langsung dengan Gaza.
Pada bulan Maret, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi penting mengenai ketidakadilan historis akibat perdagangan budak lintas Atlantik dan menyerukan keadilan reparatif (reparatory justice).
Sebanyak 123 negara mendukung resolusi itu dan 52 negara memilih abstain. Hanya tiga negara di seluruh dunia yang menolak, yaitu Amerika Serikat, Israel, dan Argentina.
Ada sesuatu yang luar biasa dari kesamaan posisi tersebut. Dalam isu kejahatan terbesar sejarah umat manusia, Amerika Serikat di bawah Trump, Israel di bawah Benjamin Netanyahu, dan Argentina di bawah Javier Milei berdiri bersama secara hampir sendirian.
Bagi mereka yang memandang dunia melalui lensa Gaza, pola semacam ini sulit untuk diabaikan. Isu, sejarah, dan persoalan hukumnya mungkin berbeda.
Namun, naluri moral yang tampak terasa serupa. Ketika korban ketidakadilan sejarah menuntut pertanggungjawaban, pemerintah yang sama kembali memilih berdiri di sisi yang berlawanan.
Mengapa Saya Mendukung Spanyol
Jadi benar, tadi malam saya menonton pertandingan sepak bola. Saya tetap mengagumi kehebatan Messi dan sejarah luar biasa sepak bola Argentina.
Namun, saya ingin Spanyol menang, dan Spanyol memang keluar sebagai juara. Hal itu menunjukkan betapa besarnya pengaruh isu Gaza terhadap peta moral kita.
Negara-negara yang dahulu terasa jauh kini terasa dekat karena mereka berani berbicara ketika yang lain memilih diam. Pemerintah yang sebelumnya nyaris tidak terpikirkan kini memperoleh rasa hormat karena menolak memalingkan muka saat dunia diuji secara moral.
Terkadang, peta moral itu meluas hingga ke lapangan sepak bola. Jutaan orang merayakan kemenangan Spanyol bukan hanya karena gaya bermain atau sosok Lamine Yamal, melainkan juga sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Piala Dunia memang tidak akan secara langsung menghadirkan keadilan atau memberi makan anak-anak di Gaza. Kita tidak boleh menyamakan sekadar simbol dengan keadilan yang nyata.
Namun, manusia hidup melalui simbol-simbol tersebut. Tadi malam, seragam merah Spanyol membawa makna moril yang sangat dalam.
Ketika Lamine Yamal dan rekan-rekannya mengangkat trofi Piala Dunia, saya ikut merayakannya. Bukan karena sepak bola dapat mengubah tragedi di Gaza, melainkan karena Gaza telah mengubah cara saya memandang sebuah pertandingan sepak bola. []
Sumber: Aljazeera.com






