Kepala Babi Terpenggal Ditemukan di Sembilan Masjid, Muslim Prancis Siaga
Penyelidik Prancis telah membuka penyelidikan terkait dugaan campur tangan asing.

‘Itu menyakitkan saya’
Di Masjid Islah, Montreuil, pinggiran timur Paris, Haider Rassool menunjukkan rekaman kamera pengawas di ponselnya.
Dalam video, seorang pria bersweater terlihat meletakkan kepala babi di sisi kiri pintu masuk masjid, lalu memotret perbuatannya.
“Kami awalnya sangat khawatir,” kata Rassool kepada Al Jazeera. “Ini lingkungan yang tenang – kami akrab dengan para tetangga. Begitu tahu kami bukan satu-satunya masjid yang menjadi sasaran, bukan berarti kami lega, tapi setidaknya tahu ini bukan aksi dendam pribadi.”
Namun insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kejahatan kebencian terhadap Muslim di Prancis.
Dalam lima bulan pertama 2025, tercatat 145 insiden Islamofobia, meningkat 75 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kasus terbaru mencakup percobaan pembakaran, ancaman, bahkan pembunuhan – seperti kasus pembunuhan Aboubakar Cisse asal Mali pada Mei.
Survei IFOP terbaru yang dimuat harian Liberation menunjukkan dua dari tiga Muslim Prancis mengaku pernah menjadi korban perilaku rasis dalam lima tahun terakhir.
“Sebagai seseorang yang punya ayah Muslim, ini sungguh mengerikan, menyakitkan saya secara pribadi,” kata Saphia Ait Ouarabi, aktivis antirasisme, kepada Al Jazeera. “Seperti semua orang, saya khawatir. Ini soal menenangkan adik-adik atau sepupu-sepupu saya yang bertanya apakah mereka akan jadi korban juga. Ada gadis-gadis muda berhijab di sekolah yang takut diserang. Jujur saja, ini sangat berat.”
Luka lama yang dieksploitasi
Rim-Sarah Alouane, pakar hukum dan peneliti HAM di Universitas Toulouse Capitole, menilai aktor asing memanfaatkan “luka-luka lama yang sudah ada di masyarakat Prancis”.
“Mereka bahkan tidak perlu menciptakan perpecahan atau kekacauan; itu sudah ada,” kata Alouane. “Mereka hanya perlu mengeksploitasinya. Ini mengubah kejahatan kebencian menjadi senjata disrupsi geopolitik.”
Sejak akhir 2023, jaksa telah mengidentifikasi sembilan aksi campur tangan asing di Paris, sering kali – meski tidak selalu – dengan tujuan mengobarkan kebencian agama.
Pada Mei 2024, Monumen Holocaust Paris dicoret dengan cap tangan merah. Bulan yang sama, tiga warga Serbia ditangkap di Antibes, Prancis selatan, terkait vandalisme terhadap tiga sinagoga, sebuah restoran, dan Monumen Holocaust.






