Khotbah Idulfitri di Aceh Tamiang, UBN Ajak Warga Bangkit dari Bencana

Menurutnya, kerusakan alam tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan.
“Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan sungai disempitkan, maka alam akan merespons sesuai sunnatullah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bencana harus menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar untuk diratapi.
UBN juga mengaitkan momentum Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kepedulian sosial.
Ia menyebut Ramadan sebagai madrasah yang melatih kesabaran, solidaritas, serta tanggung jawab terhadap sesama.
Menutup khutbahnya, UBN mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik balik untuk bangkit dari bencana.
“Dari trauma mari kita bangkit, dari kehilangan mari kita bersatu, dari bencana kita bangun peradaban,” pungkasnya.
Usai pelaksanaan salat Idulfitri, UBN melanjutkan kegiatan dengan makan bersama para jemaah yang merupakan penyintas bencana. Kegiatan tersebut berlangsung sederhana namun penuh kebersamaan, dengan menu daging sapi yang dinikmati bersama.
UBN bersama Laznas AQL Peduli menyembelih dua ekor sapi untuk kemudian diolah dan disantap bersama masyarakat. Momentum ini menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan antara tokoh agama dan warga terdampak bencana.
Selain itu, UBN juga membagikan 100 lembar karpet masjid dan 1500 bingkisan Lebaran kepada anak-anak guna menambah kebahagiaan mereka di hari raya Idulfitri.
Pembagian bingkisan tersebut disambut antusias oleh anak-anak yang hadir di lokasi Shalat Idulfitri. Kegiatan sosial ini diharapkan dapat memperkuat semangat pemulihan serta mempererat solidaritas masyarakat pascabencana di Aceh Tamiang. []






