Kisah Mengharukan Fathan dan Rasa Syukur di Balik Musibah
Banjir ini mengajarkan kita atas tiga hal besar:
- Amanah untuk menjaga alam. kerusakan alam bukan lah tentang teori saja, ia nyata ketika hujan sedikit saja sudah membawa bencana. Rasa syukur harus membawa kita untuk memperbaiki hubungan dengan bumi, bukan sekedar menyalahkan takdir.
- Kekuatan solidaritas. tim penyelamat menembus malam, relawan membawa perahu rusak, dan warga saling memberi tempat tinggal. Itu adalah dawah dalam wujud kemanusiaan.
- Kesadaran bahwa hidup adalah titipan. keselamatan fatan menunjukkan betapa rapuhnya hidup, namun juga betapa berharganya. Bagaimana orang yang selamat dari banjir, rasa syukur bukan pilihan, ia adalah kebutuhan untuk menata kembali hidup yang sersisa.
Akhir yang Belum Usai
Saat ini Fathan sedang berada dalam perawatan keluarga besarnya. Ia belum memahami kehilangan yang mengelilinginya. Ia belum mengerti bahwa namanya selalu di sebut oleh ratusan orang yang tidak pernah ia temui.
Tetapi dari kisah ini kita belajar bahwa ketabahan dalam bersyukur dan mengingatkan manusia bahwa hidup adalah anugerah yang setiap saat bisa di ambil. Banjir mungkin sudah merenggut banyak hal seperti rumah, harta dan bahkan keluarga. Namun di tengan itu semua allah masih menyisakan secerca harapan untuk kita.[]
Nurhaliza, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumbar.






