RESONANSI

Korupsi Marak, Cermin Lemahnya Iman Oknum Pejabat

Ancaman bagi Koruptor

Dalam ajaran Islam, korupsi dikategorikan sebagai perbuatan haram yang termasuk dalam konsep ghulul (penggelapan atau pengkhianatan harta) serta memakan harta orang lain secara batil. Al-Qur’an dan hadis telah memberikan peringatan yang sangat tegas untuk melarang praktik keji ini.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. An-Nisa: 29)

Ayat ini secara tegas melarang segala bentuk penguasaan, pencurian, penipuan, atau penyelewengan harta yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Peringatan serupa juga ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada surah Ali ‘Imran ayat 161:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Q.S. Ali ‘Imran: 161)

Ayat ini mengharamkan tindakan berkhianat atau ghulul dengan ancaman bahwa pelaku korupsi akan memikul hasil kejahatannya di hadapan Allah Swt. pada hari Kiamat kelak. Selain itu, Allah Swt. mengingatkan ancaman azab neraka bagi para pelaku penyelewengan hak orang lain dalam surah An-Nisa ayat 10:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (Q.S. An-Nisa: 10)

Rasulullah saw. juga menegaskan keharaman praktik ghulul melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ، كَانَ غُلُولاً يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa di antara kalian yang kami pekerjakan untuk suatu jabatan, kemudian dia menyembunyikan sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (khianat) yang akan dia bawa pada hari Kiamat.” (H.R. Muslim)

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button