NASIONAL

Kritik Pidato Prabowo, KH Athian Ali: Solusi Dua Negara Sama dengan Khianati Konstitusi RI

Pertanyaan ini menunjuk pada persoalan fundamental: jika solusi dua negara diimplementasikan berdasarkan kondisi saat ini, maka Israel akan mendapatkan legitimasi atas lebih dari 80 persen wilayah Palestina yang telah direbutnya melalui ekspansi bertahap selama puluhan tahun.

Atas dasar berbagai pertimbangan tersebut, FUUI menyatakan penolakan tegas terhadap konsep solusi dua negara sebagai jalan keluar dari penjajahan Israel atas Palestina. Menurut KH Athian, solusi ini hanya akan melegalkan penjajah untuk merebut dan menguasai wilayah jajahannya secara permanen.

Kritik FUUI tidak berhenti pada konsep solusi dua negara, tetapi juga menyasar rencana 21 poin yang diajukan Presiden Donald Trump untuk Gaza. KH Athian menilai usulan Trump sangat merugikan kepentingan Palestina dan pada dasarnya hanya melegitimasi dominasi Israel.

Salah satu poin yang dikritik adalah janji bahwa jika Israel dan Hamas menyetujui usulan tersebut, perang akan segera berakhir dengan IDF menghentikan semua operasi dan menarik diri dari Jalur Gaza secara bertahap.

“Sejak kapan dan apa jaminannya Israel akan menaati perjanjian dan kesepakatan? Resolusi-resolusi PBB saja tidak ada satupun yang ditaati dan dijalankan. Begitu pula dengan perjanjian Oslo pada 1993 yang juga mereka khianati. Jangankan perjanjian dengan manusia, perjanjian dengan Allah SWT bahkan dibawah ancaman gunung Thur diatas kepala mereka akhirnya mereka khianati juga. Kisah ini bisa kita baca dalam surat Al Baqarah ayat 63 dan 93,” terang KH Athian dengan merujuk pada sumber teologis.

Argumentasi ini menekankan track record Israel dalam melanggar berbagai kesepakatan internasional dan resolusi PBB yang telah dikeluarkan selama puluhan tahun. Skeptisisme terhadap komitmen Israel ini bukan tanpa dasar, mengingat sejarah panjang pelanggaran yang telah dilakukan.

Menurut analisis KH Athian, kombinasi antara solusi dua negara dan 21 poin usulan Trump akan menghasilkan kemerdekaan Palestina yang hanya bersifat nominal. Palestina akan menjadi negara boneka yang meski memiliki presiden sendiri, namun tidak memiliki kedaulatan sejati.

“Meski kelak Palestina dianggap merdeka tetapi tidak boleh memiliki pasukan bersenjata, Hamas dilucuti dan ekonomi sepenuhnya diatur mereka. Lalu jika demikian apalah arti merdeka?” tanya KH Athian dengan retorika yang tajam.

Kekhawatiran lain yang disampaikan adalah bahwa implementasi solusi dua negara dan 21 poin Trump akan membebaskan Benjamin Netanyahu dari tuntutan sebagai penjahat perang. Padahal, ratusan negara telah mengakui kemerdekaan Palestina dan menuntut Netanyahu diadili atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya.

Sebagai penutup, KH Athian menegaskan posisi FUUI dengan jelas dan tegas. “Solusinya tetap satu, Palestina Merdeka tanpa syarat, Israel keluar tanpa syarat dan adili Netanyahu sebagai penjahat perang,” pungkasnya.

Kritik FUUI terhadap pidato Prabowo di PBB ini mencerminkan ketegangan antara diplomasi pragmatis yang dilakukan pemerintah dengan aspirasi ideologis sebagian besar masyarakat Indonesia. Perbedaan pandangan ini menunjukkan kompleksitas dalam merumuskan kebijakan luar negeri yang harus menyeimbangkan berbagai kepentingan dan nilai-nilai yang dianut bangsa.[]

Rep: Suwandi

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button