RESONANSI

Kritis tanpa Borgol

Bahasa Netral Lebih Tajam daripada Makian

Strategi keempat: gunakan bahasa rasional. Banyak orang mengira semakin kasar, semakin kritis. Padahal dalam hukum pidana, niat—mens rea—sangat menentukan. Sarkasme berlebihan, makian, dan tudingan emosional mudah ditafsirkan sebagai niat menyerang kehormatan.

“Perlu klarifikasi dan audit terbuka,” terdengar membosankan tapi aman. “Ini penipuan besar,” terdengar heroik tapi berisiko. Perbedaan satu kata bisa menjadi perbedaan antara status warga bebas dan tersangka.

Lucunya, kritik paling mematikan justru yang tenang. Bahasa netral membuat argumen sulit dibantah. Emosi justru memberi celah bagi pihak yang ingin membungkam.

Tutup dengan Itikad Baik

Strategi kelima: akhiri dengan ajakan klarifikasi atau perbaikan. Kritik konstruktif menunjukkan niat baik. “Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka,” berbeda makna dengan, “Ini bukti kebusukan.”

Dalam hukum, itikad baik adalah kunci. Kritik yang bertujuan memperbaiki dibaca sebagai kontrol sosial. Kritik yang bernada vonis dibaca sebagai serangan.

Di titik ini, kritik berubah dari teriakan menjadi tuntutan. Dari makian menjadi desakan rasional.

Pisahkan Fakta, Opini, dan Dugaan

Strategi keenam ini sering diabaikan. Padahal dalam hukum, fakta, opini, dan dugaan punya bobot berbeda.
Fakta adalah peristiwa yang bisa diverifikasi.
Opini adalah penilaian pribadi.
Dugaan adalah asumsi yang belum terbukti.
Masalah muncul ketika dugaan ditulis seolah fakta.

“Ada indikasi kejanggalan, perlu audit,” jauh lebih aman daripada, “Ini jelas korupsi.” Kalimat terakhir langsung menuduh tindak pidana. Itu bukan lagi kritik, tapi dakwaan.

Prinsipnya sederhana: tuliskan apa yang Anda tahu, bukan apa yang Anda curigai. Di media sosial, godaan menulis prasangka memang besar. Tapi hukum tak peduli pada firasat.

Hindari Generalisasi dan Labelisasi

Strategi ketujuh: jangan menyapu semua dengan satu sapu. Hukum sensitif terhadap pelabelan kolektif.
“Semua pejabat korup.”
“DPR isinya maling semua.”

Kalimat semacam ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga berisiko hukum. Penghinaan terhadap kelompok tertentu bisa berujung pidana.

Bandingkan dengan:
“Sejumlah pejabat terseret kasus korupsi.”
“Beberapa anggota DPR menjadi tersangka.”

Kritik yang kuat justru yang spesifik: siapa, apa, kapan, di mana. Generalisasi hanya menunjukkan kemarahan, bukan ketajaman.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button