Larangan Israel terhadap LSM yang Beroperasi di Gaza Akan Sangat Menghancurkan
Namun larangan itu tidak akan memadamkan tekad rakyat Gaza untuk bertahan hidup, membangun kembali, dan bangkit menuju kehidupan yang lebih baik.
Dari 1948 hingga 2026
Saya pertama kali mempelajari sejarah AFSC dari sahabat saya, Ahmad Alhaaj, yang merasakan langsung manfaat kerja AFSC ketika ia masih menjadi pengungsi muda pada 1948.
Ahmad wafat di Kota Gaza pada Januari 2024. Sungguh memilukan bahwa ia menjalani seluruh hidupnya sebagai pengungsi—mengisahkan pembantaian Israel pada 1948—namun menghabiskan hari-hari terakhirnya di tengah genosida. Ia meninggal dalam kepungan dan pemboman, akhirnya kehilangan nyawa karena obat-obatan penting tidak tersedia.
Kisah Ahmad di Gaza pada 2024 secara tragis mirip dengan kisahnya pada 1948. Saat itu ia berusia 16 tahun, seorang pengungsi tanpa alas kaki yang mengikuti perintah evakuasi ke Gaza dari desanya, al-Sawafir. Yang berubah hanyalah waktu; yang tidak berubah adalah kondisi perampasan, pengusiran, dan pengabaian.
Namun kisah Ahmad bukan sekadar kisah pengusiran. Kisah Ahmad adalah kisah cinta—cinta pada desanya. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di Gaza sebagai pengungsi di rumah sewaan, menolak memiliki rumah sendiri agar tak pernah melupakan desa dan rumah orang tuanya yang terpaksa ditinggalkan. Bagi Ahmad, kepemilikan di tempat lain berisiko menghapus ingatan; tetap menyewa adalah tindakan kesetiaan.
Cinta yang sama juga diwujudkan oleh banyak warga Palestina yang memilih Gaza, bahkan di bawah hujan api. Ini adalah pengabdian pada tempat yang menentang pengepungan, pengusiran, dan kematian. Cinta Ahmad mengingatkan saya pada dedikasi mentor dan sahabat saya, Refaat Alareer, yang menjadi pencerita besar Gaza, menyuarakan rakyat dan penderitaan mereka. Pada 6 Desember 2023, Israel membunuh Refaat bersama saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan para keponakannya dalam serangan terarah ke apartemennya.
Seperti Ahmad, Refaat membayar cinta ini—ikatan tak terputus dengan tanah dan ingatan—dengan nyawanya.
Puisinya, If I Must Die, telah menjadi kesaksian atas cinta itu dan harapan yang tak padam—sebuah pesan yang melampaui Gaza dan berubah menjadi kisah global. Lahir dari kepungan dan perlawanan, puisi itu membawa kemanusiaan Gaza ke dunia, menegaskan kehidupan, ingatan, dan martabat bahkan di hadapan kematian.
Gaza Bangkit
Pada 1948, Distrik Gaza Raya menaungi 34 desa. Salah satunya adalah desa Ahmad. Bagi kakek-nenek kami, Gaza dipahami sebagai wilayah yang jauh lebih luas daripada jalur sempit yang kemudian terbentuk. Rasa keterikatan mereka pada tempat bersifat luas, berakar pada desa-desa, ladang, dan geografi yang berkesinambungan.
Namun orang tua kami menyaksikan Gaza menyusut dari waktu ke waktu. Wilayah yang dahulu termasuk salah satu distrik terbesar di Palestina bersejarah itu dipersempit pada 1948 menjadi sekitar 555 km². Kemudian menyusut lagi menjadi sekitar 365 km² setelah Israel menetapkan apa yang disebut zona demiliterisasi—tanah yang pada akhirnya dicaplok dengan mengorbankan langsung rakyat Gaza.
Hari ini, Israel menduduki lebih dari setengah wilayah Gaza. Israel memberlakukan apa yang dikenal sebagai “garis kuning”, yang berfungsi sebagai perbatasan de facto baru dan terus meluas, mencaplok wilayah demi wilayah. Warga Palestina yang melintasinya dieksekusi. Bahkan Fadi dan Jumaa, berusia 8 dan 10 tahun, tidak luput. Gaza bukan hanya dikepung; ia sedang dihapus secara fisik, meter demi meter, generasi demi generasi.
Gaza yang kami cintai melampaui garis dan batas. Meski mayoritas warga Palestina di Gaza adalah pengungsi dari kota-kota yang kini berada di dalam Israel, Gaza adalah rumah yang kami sebut milik kami.
Kini, Gaza telah membebaskan imajinasi dan nurani manusia di seluruh dunia. Ia melampaui geografi dan garis-garis buatan di peta—kuning atau hijau.
Israel boleh melarang organisasi internasional dan jurnalis, menangkap tenaga medis kami, dan membombardir para penyair kami. Israel dapat menghancurkan kehidupan dan rumah serta menimbulkan penderitaan tak terperi. Namun Israel tidak dapat melarang perjuangan kami untuk keadilan atau naluri kemanusiaan kami untuk saling membantu bertahan hidup. Terlepas dari banyak rintangan dan tantangan, kerja kami untuk mendukung rakyat Gaza dan seluruh wilayah Palestina yang diduduki akan terus berlanjut.
Gaza berarti kebebasan, pengorbanan, dan cinta—bahkan di tengah tenda dan puing-puing. Dan Gaza akan bangkit kembali dari reruntuhan, sebagaimana yang telah dilakukannya sepanjang sejarah. []
*Koordinator Gaza untuk American Friends Service Committee (AFSC) Pengungsi dari Kamp Pengungsi Al-Nuseirat di Jalur Gaza, dan baru-baru ini meraih gelar doktor (PhD) di Middle East Institute, Universitas Sakarya, Turkiye._
Sumber: Aljazeera.com






