IBRAH

Mencintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad Saw

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran (3): 31).

Dari ayat di atas Allah SWT mengabarkan kepada Rasulullah saw, untuk disampaikan kepada umat manusia, bahwa indikasi mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya adalah dengan cara mengikuti apa yang dibawa oleh Baginda Rasulullah Saw, yaitu Al-Qur’an dan hadits Rasul Saw.  Sebab Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw, adalah petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

Jika kita mencintai Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, niscaya Allah SWT akan mencintai kita, dengan cara mengampuni semua dosa-dosa kita, dan memasukannya kedalam golongan hamba-hamba Allah SWT yang beruntung. Karenanya bentuk cinta manusia kepada Allah SWT adalah dengan taat pada syariat-Nya.

Ketika Allah SWT melarang kita berbuat kerusakan dimuka bumi, maka kita tidak akan melakukan aktivitas yang akan menyebabkan kerusakan dimuka bumi. Kita akan mengelola bumi sesuai dengan tuntunan syariat. Tidak akan melakukan deforestasi hutan, tidak akan menggunduli hutan yang akan menyebabkan banjir dan longsor yang menimbulkan korban jiwa, tidak akan mengeksploitasi sumber daya alam sehingga menimbulkan kerusakan alam akibat alih fungsi lahan yang tidak semestinya, tidak akan menyerahkan pengelolaan sumber daya alam berupa barang tambang dan energi kepada korporasi baik asing maupun lokal, yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam dan kemiskinan secara sistemik, dan lain sebagainya.

Sebaliknya kita akan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT, misalkan dengan menjaga keseimbangan alam, dengan mengelolanya sesuai tuntunan syariat.  Menjaga hutan, sungai, danau, dari aktivitas pengrusakan dan penjarahan. Melakukan aktivitas ekonomi sesuai tuntunan syariat seperti jual beli yang halal, dan menjauhi aktivitas ribawi dengan berbagai macam bentuknya.

Melaksanakan amanah kepemimpinan dengan benar yaitu yang sesuai dengan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw, yaitu melakukan pengurusan terhadap seluruh urusan umat manusia dengan menerapkan hukum syariat Islam kaffah atasnya. Demikianlah tanda kita mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, yaitu taat dan melaksanakan syariat.

Sehingga kita akan mudah melakukan sholat, puasa, zakat, naik haji jika mampu, dan seluruh hukum syariat yang diamanahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya untuk dilaksanakan. Demikianlah bukti cinta sejati kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukan hanya sekedar menangis tersedu-sedu saat ada dalam majelis dzikir, namun tertawa lepas melakukan dosa dan tidak taat syariat saat berada diluar majelis zikir.

Sebab ketika tidak taat syariat, berarti cintanya adalah palsu, bukan cinta sejati. Akibat cinta palsu ini, akan menyebabkan timbulnya aksi ketidaktaatan pada syariat, yang akan menyebabkan terjadinya banyak kerusakan-kerusakan dimuka bumi ini, mulai dari bencana alam berupa banjir dan longsor, ataupun bencana moral, mulai dari dekadensi moral dikalangan muda bahkan sampai kalangan tua, hingga menimbulkan banyak kasus korupsi hingga aborsi.

Hal yang akan menimbulkan banyak kesengsaraan hidup bagi kehidupan manusia itu sendiri. Sebab ketidaktaatan pada syariat Allah SWT berarti adalah dosa. Dan perbuatan dosa pasti akan senantiasa menimbulkan bencana. Baik bagi pelaku itu sendiri, dan tidak jarang juga menimpa pihak lain yang diam terhadap perilaku dosa tersebut.

Maka mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya tidak cukup dengan ucapan semata, namun harus nyata hadir dalam setiap gerak-gerik hamba. Yaitu hingga hadir dalam hatinya rasa senantiasa butuh pada cinta Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga manusia akan senantiasa berupaya untuk menghadirkan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya semata agar mendapatkan kecintaan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Sebab kemenangan besar bagi setiap yang mendapatkan cinta Allah SWT dan Rasul-Nya, adalah diampuninya semua dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang,

Dan tidaklah akan diberikan balasan yang paling baik dari Allah SWT dan Rasul-Nya, melainkan akan mendapatkan rida-Nya dalam bentuk dimasukannya kedalam sebaik-baiknya tempat kembali, yaitu surga, seluas langit dan bumi.

Karenanya mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, sama dengan mencintai seluruh syariat Islam kaffah tanpa nanti dan tanpa tapi. Taat syariat Islam kaffah dalam kehidupan pribadi hingga kehidupan publik. Hingga mampu melaksanakan dan menerapkan seluruh hukum syariat Islam kaffah, yang pada tataran faktanya akan senantiasa mengantarkan pada Islam sebagai rahmatan lil alamin, Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,  yang mengantarkan pada keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia didunia dan akhirat. Wallahua’lam. []

Ayu Mela Yulianti, S.Pt., Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik.

Back to top button