Dakwah dan Cinta: Memoar Seorang Aktivis Mahasiswa Islam (1)
Pengantar: Ini adalah kisah nyata. Beberapa nama disamarkan karena sebagian pelakunya masih hidup.
Namanya Ali New. Tubuhnya kecil, wajahnya cukup tampan, dan semasa menjadi mahasiswa ia gemar bercermin. Ia menempuh pendidikan di Institut Pertamanan Bonanza (IPB).
Sejak kecil hingga remaja, Ali hampir tidak pernah bergaul akrab dengan perempuan. Saat SD ia pernah mengagumi seorang siswi bertubuh tinggi besar, tetapi perasaan itu hanya dipendam dalam hati.
Ketika SMP ia juga menyukai seorang teman yang pandai menari. Lagi-lagi, perasaan itu hanya menjadi rahasia yang tak pernah diungkapkan.
Ali dikenal sebagai anak yang cerdas. Ketika SMP ia hampir selalu menjadi juara satu atau dua di kelasnya.
Guru matematikanya sangat menyayanginya. Beliau sering menyebut Ali sebagai “gong” matematika sekolah karena hampir semua mata pelajaran dikuasainya dengan baik.
Prestasinya membuat Kepala Kantor Pendidikan Nasional di daerahnya memberikan beasiswa. Penghargaan itu diberikan kepada Ali dan seorang murid perempuan berprestasi lainnya.
Masa kecil Ali dipenuhi dengan kegiatan belajar. Pagi hari ia bersekolah, sore belajar di madrasah, dan malam hari mengaji kepada para kiai di desanya.
Di rumah, Ali mempunyai kebiasaan yang tidak biasa bagi anak laki-laki seusianya. Ia sangat senang merapikan rumah.
Karena kedua orang tuanya bekerja, kondisi rumah sering kurang terurus. Ali dengan senang hati membereskan dan membersihkan semuanya.
Selain itu, ia juga rajin membantu usaha orang tuanya. Mereka berjualan minyak tanah dan menerima jasa obras kain.
Memasuki SMA di kota minyak, Cepu, kehidupan Ali mulai berubah. Pada kelas satu dan dua, prestasinya tetap bertahan dengan baik.
Namun, ketika menginjak kelas tiga, nilainya justru menurun drastis. Kepala sekolah sampai memanggil ayahnya untuk menanyakan penyebab perubahan tersebut.
Ternyata penyebab penurunan nilai itu bukan karena faktor pelajaran. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ali mulai didekati oleh seorang perempuan bernama Umi.
Kecerdasan Ali dalam pelajaran kimia membuat Umi tertarik. Gadis itu sering memindahkan kursinya agar bisa duduk di dekat Ali.





