Nabi Ismail alaihis salam dan Ketaatan di Era Modern
Oleh: Sri Wulandari, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Taat berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sikap tunduk, patuh, dan setia terhadap aturan. Dalam bahasa Arab, kata taat bermakna mengikuti dan menemani.
Karena itu, taat bukan sekadar menjalankan perintah secara lahiriah, melainkan kesediaan hati untuk menjalankan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keyakinan.
Prinsip ketaatan yang hakiki ini dapat dipelajari dari kisah agung Nabi Ismail alaihis salam.
Saat perintah yang sangat berat datang kepada ayahnya, Nabi Ibrahim alaihis salam, Nabi Ismail alaihis salam justru menunjukkan ketundukan yang luar biasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataannya dalam Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 102:
يا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TQS As-Saffat: 102).
Ketaatan Nabi Ismail alaihis salam tidak berhenti pada ucapan semata, tetapi menjadi bukti keteguhan iman yang menggetarkan jiwa.
Di sinilah tampak hubungan ayah dan anak yang dibangun di atas fondasi keimanan yang kokoh. Tidak ada penolakan maupun keluhan dari ia, meskipun nyawa sendiri yang menjadi taruhannya.
Jika kita bandingkan dengan kondisi remaja hari ini, ujian Nabi Ismail alaihis salam jelas jauh lebih berat.
Namun ironisnya, banyak remaja zaman sekarang justru merasa kesulitan menghadapi ujian yang jauh lebih ringan.
Ibadah shalat lima waktu terasa berat bagi mereka, menutup aurat dianggap mengekang kebebasan, dan menjauhi aktivitas pacaran dianggap sebagai hal yang mustahil. Padahal, tidak ada sebilah pedang pun yang sedang menempel di leher mereka.
Di sinilah letak perbedaan mendasar, di mana hal yang sering mengalahkan ketaatan para remaja justru adalah ego dan hawa nafsu mereka sendiri.
Lalu, mengapa ketaatan yang tergolong ringan ini justru terasa begitu membebani?
Masalahnya bukan semata-mata pada diri individu remaja, tetapi juga pada lingkungan dan sistem kehidupan yang membentuk pola pikir mereka hari ini.






