Menelisik Isi Kesepakatan AS-Iran
Presiden Trump menyatakan bahwa mencegah Iran memiliki bom nuklir adalah 99 persen tujuannya dalam melancarkan Operasi Epic Fury. Karena kesepakatan ini bersifat berbasis kinerja, keringanan sanksi baru akan diberikan jika Iran benar-benar mematuhi poin nuklir tersebut.
Sampai kesepakatan final tercapai, kedua pihak sepakat menjaga status quo program nuklir Iran. Sebagai kompensasi awal, AS akan menerbitkan izin ekspor minyak serta layanan perbankan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah poin ke-11 tentang pencairan aset Iran yang dibekukan. Masalah aset ini selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam hubungan kedua negara.
Dokumen menyatakan AS akan menyediakan sepenuhnya dana yang dibekukan atau terbatas begitu MoU ditandatangani. Namun, seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa pencairan tetap akan dilakukan bertahap sebagai insentif saat Iran mulai menangani uranium yang diperkaya.
Tiga poin terakhir mengatur mekanisme pemantauan implementasi dan negosiasi final. Keputusan akhir nantinya akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB yang bersifat mengikat.
Namun, mekanisme pemantauan ini dinilai masih abstrak oleh berbagai pengamat internasional. Kelemahan ini diingatkan oleh mantan pejabat bantuan PBB, Martin Griffiths.
Ia menyatakan bahwa gencatan senjata sering kali runtuh karena tidak memiliki mekanisme pendukung. Kegagalan tersebut biasanya dipicu oleh tiadanya pemantauan dan pada dasarnya tidak ada kemauan politik dari pihak yang terlibat.
Dinamika di luar kesepakatan ini tampaknya menunjukkan bahwa AS dan Israel belum seiya sekata. Hanya dua hari setelah penandatanganan, Israel terus melancarkan serangan udara di Lebanon yang menewaskan sedikitnya 47 orang.
Tindakan tersebut memicu kecaman keras dari Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi. Ia menuding AS telah gagal memenuhi klausul pertama dalam nota kesepahaman.
Dengan hitungan mundur 60 hari yang telah berjalan, masa depan Timur Tengah sangat bergantung pada bagaimana AS dan Iran menjembatani perbedaan. Iran menginginkan jaminan bahwa perang di Lebanon benar-benar berakhir, sesuatu yang sejauh ini masih belum jelas dari sudut pandang Israel.
Di sisi lain, Presiden Trump mengancam akan melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan jika kesepakatan final gagal tercapai. Hubungan kedua negara pun kini berada dalam masa krusial.
Kita berharap perjanjian ini bisa bertahan lama. Dengan demikian, AS dan Iran dapat bermitra sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing.
Israel juga harus realistis bahwa masa depan mereka tidak bisa dilepaskan dari kebijakan luar negeri AS. Jika Washington memilih jalan damai, sudah seharusnya Tel Aviv mengambil langkah serupa.
Israel harus realistis dengan tuntutan masyarakat internasional. Salah satu tuntutan utama tersebut adalah perwujudan perdamaian dan kemerdekaan penuh bagi Palestina. []






