NASIONAL

Aktivis HAM Tolak Hukuman Mati bagi Koruptor, Waketum MUI: Itu HAM Burger!

Jakarta (Suaraislam.id)—Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyampaikan kritik tajam terhadap kelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang menentang wacana penerapan hukuman mati bagi para koruptor.

Sosok yang akrab disapa Kiai Cholil ini menilai, cara berpikir yang membela hak koruptor di atas kepentingan jutaan rakyat adalah keliru dan mengibaratkannya sebagai “HAM Burger”.

“Ya ini HAM-nya HAM burgers ini. Kok ini mana HAM-nya seseorang dikalahkan dengan HAM-nya orang banyak?” ujar Kiai Cholil Nafis di Jakarta, Selasa (4/8/2026), dikutip dari MUI Digital.

Kiai Cholil menegaskan bahwa hak asasi manusia tidak bersifat tunggal dan harus diletakkan secara proporsional beriringan dengan kewajiban. Menurutnya, hak hidup dan hak sejahtera masyarakat luas (maslahatul ‘ammah) wajib diprioritaskan di atas kepentingan individu penjahat anggaran.

“HAM-nya orang banyak itu hak hidup bernegara, hak hidup untuk sejahtera, kekayaan bersama, kemerdekaan sama-sama. Nah, kok dirampas oleh seseorang hak asasi manusianya, kemudian kita mengatakan kita bela HAM-nya? Hak individu tidak boleh mengalahkan hak umum,” ungkap Rais Syuriah PBNU itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok ini menambahkan bahwa praktik korupsi masif telah merenggut hak-hak dasar rakyat, mulai dari akses pendidikan hingga kesejahteraan ekonomi. Ketika anggaran negara digarong, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan dan dimiskinkan secara sistemik.

MUI menilai kejahatan korupsi di Indonesia saat ini telah terjadi secara merata dan menjadi ancaman nyata bagi stabilitas negara. Dalam kondisi darurat tersebut, negara dinilai berhak menetapkan hukuman terberat berupa hukuman mati dan perampasan aset.

“Ketika nanti pemerintah mempunyai ijtihad tentang koruptor yang secara sistemik mengganggu terhadap stabilitas negara, mengganggu eksistensi negara dalam kondisi tertentu, maka negara boleh memberi hukuman mati. Tujuannya agar mereka jera dan orang menjadi takut, sehingga korupsi tidak lagi menjadi budaya,” tegas Kiai Cholil. []

Sumber: mui.or.id

Back to top button