NUIM HIDAYAT

Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia?

Hari ini adalah hari sumpah pemuda. Pada 27-28 Oktober 1928 dulu, di Jakarta diadakan pertemuan para pemuda dari berbagai unsur. Ada Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Perhimpoenan Peladjar Indonesia dan lain-lain. Mereka berunding dan rapat dua hari itu, hingga membuat keputusan tiga sumpah pemuda. Yang salah satu isinya : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Peristiwa 93 tahun yang lalu itu menarik untuk kini dicermati. Telahkah bahasa Indonesia kini dijunjung tinggi bangsa Indonesia?

Alhamdulillah bahasa Indonesia atau bahasa Melayu kini digunakan lebih dari 300 juta penduduk dunia. Rakyat Indonesia, Malaysia, sebagian rakyat Singapura, Filipina selatan dan Thailand selatan bisa berbahasa Indonesia. Tentu ini hal yang membanggakan. Bandingkan dengan bahasa Jerman, Jepang dan Prancis yang lebih sedikit penggunanya.

Tentu sebagai bangsa kita bangga. Tapi kita juga perlu evaluasi diri. Telahkah bahasa Indonesia kini digunakan secara benar?

Bahasa Indonesia kini banyak digunakan secara gado-gado. Bahkan ada kecenderungan penggunaan bahasa Inggris yang berlebihan. Cemara Village, bike to work, goes to campus, judul-judul buku berbahasa Inggris padahal isinya bahasa Indonesia, kini menjamur di tanah air. Bahasa Inggris seolah-olah derajatnya lebih tinggi dari bahasa Indonesia. Imperialisme lewat bahasa kini berhasil mengena pada bangsa kita.

Keminderan penggunaan bahasa Indonesia ini, membuat bahasa Indonesia tidak mungkin menjadi besar. Yang membuat besar suatu bahasa, adalah bila penduduknya bangga dengan bahasa itu. Lihatlah China bangga dengan bahasa Chinanya, begitu juga Inggris, Jerman dan lain-lain, bangga dengan bahasa bangsanya.

Di kampus UI misalnya, kini kebanyakan buku-buku rujukannya berbahasa Inggris. Ini tentu tidak salah bila dimaksudkan agar para mahasiswanya terpacu untuk memahami bahasa lain. Tapi di sini orang akan bertanya mana karya berbahasa Indonesia dosen-dosen UI sendiri? Padahal belum tentu kualitas karya buku berbahasa Inggris lebih tinggi dari buku yang berbahasa Indonesia.

Bila bahasa Inggris terlalu dipuja, maka bukan tidak mungkin suatu saat bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua setelah bahasa Inggris di negeri ini. Dan inilah yang terjadi kini di negeri Melayu, Malaysia dan Singapura. (lihat: Imperialisme Bahasa)

Bahasa Indonesia dalam sejarahnya juga telah mengalami pergeseran. Sampai 1950an, kakek-kakek kita masih mendapat pelajaran di sekolahnya dengan bahasa Arab Jawi (Arab Pegon). Tapi bahasa itu kini seperti hilang. Anak-anak di masa kini jarang yang bisa menulis bahasa Arab Jawi. Bahasa latin kini mendominasi pendidikan formal. Memang Orde Lama telah menghapuskan pelajaran bahasa Arab Jawi di sekolah-sekolah. Sehingga kebanyakan pelajar saat ini tidak bisa membaca karya-karya Nuruddin Ar Raniri, Abdussomad Al Palimbani, Raja Ali Haji dan lain-lain yang banyak ditulis dalam bahasa Arab Jawi. Dalam kurun yang panjang kaum sekuler di negeri ini berhasil menjauhkan umat Islam dari karya para ulama leluhurnya.

Tahun 1995, ketika penulis berkesempatan berkunjung ke daerah Thailand selatan, seorang ulama disitu bercerita bahwa banyak kajian-kajian Islam di wilayah itu menggunakan referensi Arab Jawi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button