Obat Tidak Pernah Puas: Menyelaraskan Syukur dan Ikhtiar Sesuai Tuntunan Nabi
Oleh: Rezka Julia (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat)
Manusia pada dasarnya memiliki keinginan alamiah untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari apa yang telah digenggamnya. Ketika memiliki satu hal, muncul hasrat untuk mendapatkan yang kedua; ketika telah memiliki dua, keinginan tersebut terus berkembang menjadi tiga, dan seterusnya.
Keinginan untuk meningkatkan taraf hidup memang merupakan hal yang wajar selama dilakukan secara proporsional. Namun, keinginan yang tidak disertai rasa syukur dapat mendorong seseorang untuk terus mengejar materi tanpa mempertimbangkan kecukupan dan kebutuhan yang sebenarnya.
Akibatnya, seseorang dapat menjadi terlalu sibuk mencari dan mengumpulkan kekayaan (takaṡur). Kondisi ini rentan membuat mereka melupakan kewajiban untuk bersyukur kepada Allah Swt. serta berbagi dengan sesama.
Kecenderungan manusia untuk terus menginginkan lebih banyak harta ini telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Al-Bukhari. Rasulullah saw. menggambarkan bahwa seandainya manusia memiliki satu lembah penuh emas, ia pasti akan menginginkan lembah yang kedua.
Apabila telah memilikinya, ia akan menginginkan lembah yang ketiga. Hingga akhirnya, tidak ada yang dapat memenuhi dan menutup keserakahan manusia tersebut selain tanah (kematian).
Hadis ini memberikan gambaran tentang sifat dasar manusia yang cenderung tidak pernah merasa cukup. Sifat ini akan terus mendominasi apabila tidak diimbangi dengan pengendalian diri (qana’ah) dan rasa syukur.
Sikap tidak pernah merasa cukup dapat menimbulkan berbagai persoalan pelik dalam kehidupan. Seseorang yang terus berorientasi pada penambahan harta berpotensi mengabaikan nikmat yang telah diperolehnya karena perhatiannya selalu tertuju pada sesuatu yang belum dimiliki.
Ketika keinginannya tercapai, ia mungkin tidak sempat menikmati rasa syukur karena segera menetapkan keinginan baru. Sebaliknya, ketika keinginannya tidak tercapai, ia dapat mengalami kekecewaan dan tekanan emosional.
Apabila berlangsung secara berkelanjutan, kondisi tersebut dapat mengganggu kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan kualitas hubungan sosialnya.
Menurut perspektif Islam, salah satu cara efektif untuk mengembangkan rasa syukur adalah dengan mengubah sudut pandang terhadap kehidupan. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk memperhatikan orang-orang yang memiliki kondisi material di bawah mereka, bukan hanya melihat orang-orang yang berada di atas mereka.
Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)






