Obat Tidak Pernah Puas: Menyelaraskan Syukur dan Ikhtiar Sesuai Tuntunan Nabi
Perasaan tersebut sering kali muncul ketika seseorang menilai kehidupannya berdasarkan kehidupan orang lain (social comparison). Padahal, penilaian semacam itu kerap dilakukan tanpa mengetahui keseluruhan proses, perjuangan, dan keadaan yang melatarbelakangi pencapaian orang lain.
Fenomena tersebut dapat dijumpai dalam pengalaman sederhana di lingkungan pertemanan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki lebih banyak pakaian model potongan (casual) dapat merasa kurang ketika melihat temannya memiliki lebih banyak gamis.
Ia kemudian beranggapan bahwa dirinya juga perlu memiliki gamis dalam jumlah yang lebih banyak. Perasaan kurang itu muncul bukan semata-mata karena ia tidak memiliki pakaian yang cukup, melainkan karena ia membandingkan kepemilikannya dengan kepemilikan orang lain.
Namun, ketika sudut pandang temannya diketahui, ternyata temannya justru menginginkan lebih banyak pakaian model potongan seperti yang dimilikinya. Pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap kecukupan bersifat sangat relatif.
Sesuatu yang dianggap biasa oleh seseorang dapat menjadi sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain. Dengan kata lain, apa yang telah dimiliki seseorang saat ini mungkin merupakan sesuatu yang sedang diharapkan atau diperjuangkan oleh orang lain.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kebiasaan membandingkan diri dapat memengaruhi cara seseorang menilai kehidupannya. Ketika perhatian hanya diarahkan pada kelebihan orang lain, kekurangan diri akan tampak semakin besar.
Sebaliknya, ketika seseorang mampu melihat kembali apa yang telah dimiliki, ia dapat menyadari bahwa kehidupannya juga mengandung banyak hal yang patut disyukuri.
Meskipun demikian, bersyukur bukan berarti meniadakan keinginan untuk berkembang atau berhenti berusaha memperbaiki keadaan. Islam tetap mendorong manusia untuk bekerja, belajar, dan berikhtiar mencapai kehidupan yang lebih baik.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keinginan tersebut dikelola agar tidak menumbuhkan sikap berlebihan, merendahkan diri sendiri, atau mengabaikan nikmat yang telah diterima. Dengan demikian, rasa syukur dan usaha untuk berkembang seharusnya berjalan beriringan.[]






