Menakjubkan Urusan Orang Mukmin: Sabar Saat Susah, Syukur Saat Lapang
Oleh: Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Pada umumnya, manusia tidak ingin hidup dalam kesusahan dan kesulitan. Padahal, ketika seseorang selalu berada dalam kemudahan hidup, hal itu merupakan bagian dari ujian dan menjadi musibah apabila ia jauh dari Yang Maha Pemberi Segalanya.
Bagi orang yang beriman, susah, senang, dan apa pun keadaannya, semuanya adalah kebaikan. Ketika diberi kesulitan dalam hidup ia bersabar, dan apabila diberi kemudahan dalam hidup ia bersyukur. Itulah karakter seorang mukmin; apa pun kondisi dan keadaannya adalah kebaikan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya dan jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Sesungguhnya, di balik setiap kesulitan, kesusahan, musibah, dan bencana terdapat hikmah serta pesan. Hal itu membuat seseorang mampu mengambil pelajaran dan akan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pertama, sebagai ujian keimanan. Bagi seorang muslim, apa pun kesulitan, musibah, dan bencana yang menimpa adalah ujian sebagai jalan atau cara Allah untuk meningkatkan kualitas keimanan seorang hamba.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 155–157)
Kedua, sarana introspeksi. Musibah dan bencana yang menimpa hendaknya dijadikan sebagai sarana introspeksi diri dan bukan sebagai bahan berkeluh kesah sehingga harus berputus asa dari rahmat Allah.
Sudah seharusnya kita memperbanyak istigfar dan bertobat.
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura [42]: 30)
Ketiga, meninggikan derajat dan mengurangi dosa. Seorang mukmin bukanlah makhluk tanpa salah dan dosa.
Kadang tanpa disadari, dirinya telah berbuat kesalahan yang menyebabkan dirinya berliput dosa. Karena itu, Allah memberikan musibah sebagai konsekuensi atas dosa dan maksiat yang dilakukannya.
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu melainkan ditulis baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.“ (HR Muslim)
Keempat, ladang amal saleh. Allah membukakan ladang beramal saleh atas bencana dan musibah yang menimpa.
Kesempatan terbuka untuk menunjukkan solidaritas persaudaraan antarsesama. Kita adalah umat yang satu, kita adalah anak cucu Adam, maka harus saling menolong.
“Orang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak akan mendzalimi dan menyerahkannya pada musuh. Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan saudaranya, Allah hilangkan satu kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa menutup aib sudaranya, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaihi)
Semoga Allah memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang tengah terkena musibah maupun kesulitan hidup dan diberikan jalan keluar dari kesulitan. Semoga Allah juga memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat membantu orang-orang yang terkena musibah. Aamiin.[]






