‘Ojo Gumunan’
“Ojo gumunan” adalah sebuah pepatah Jawa yang berarti “jangan terlalu memikirkan” atau “jangan terlalu khawatir”. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu larut dalam pikiran dan kekhawatiran, melainkan untuk menerima apa yang terjadi dengan lapang dada.
Al-Qur’an juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu khawatir dan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Dalam surah Al-A’raf ayat 188, Allah SWT berfirman: “Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku mengetahui perkara ghaib, niscaya aku akan memperbanyak amal kebaikan dan tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Pun, dalam hadits, Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu khawatir dan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung-burung. Mereka pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).
Mengamalkan Ojo Gumunan
Dengan memahami filosofi “ojo gumunan” dan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, kita dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa cara untuk mengamalkan “ojo gumunan”
Pertama, bertawakal. Percayalah kepada Allah SWT dan serahkan semua urusan kepada-Nya.
Kedua, jangan terlalu khawatir. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu dan fokus pada apa yang dapat kita lakukan.
Ketiga, terima dengan lapang dada. Terimalah apa yang terjadi dengan lapang dada dan jangan terlalu larut dalam kesedihan atau kegembiraan.
Dengan mengamalkan “ojo gumunan”, kita dapat hidup dengan lebih tenang dan damai. Semoga.[]
Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.