RESONANSI

Ironi Era Digital, Budaya Scroll Geser Semangat Iqra’

Oleh: Fajri, Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi

Ada ironi besar yang sedang kita alami sebagai umat Islam saat ini. Di tangan kita terdapat mushaf digital, ribuan kitab klasik, jutaan jurnal ilmiah, dan perpustakaan dunia yang dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari.

Belum pernah dalam sejarah manusia ilmu berada sedekat ini dengan kehidupan kita. Namun, tidak pernah pula perhatian manusia menjadi begitu mudah tercerai-berai.

Kita hidup di zaman ketika membaca semakin mudah diakses, tetapi semakin sulit untuk dilakukan. Alih-alih menuntaskan satu bab buku, kita lebih terbiasa menghabiskan puluhan video pendek.

Alih-alih merenungi satu ayat Al-Qur’an, kita lebih sering berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik. Tanpa sadar, budaya membaca perlahan-lahan digeser oleh budaya menggulir layar (scroll).

Padahal, ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ, Allah tidak memulai dengan perintah berbicara, berdebat, ataupun berdakwah. Perintah pertama yang diturunkan adalah Iqra’ yang berarti bacalah.

Pilihan redaksi tersebut tentu bukan hadir tanpa makna. Membaca adalah fondasi utama bagi lahirnya ilmu pengetahuan.

Ilmu akan melahirkan adab yang baik. Selanjutnya, adab tersebut akan melahirkan sebuah peradaban.

Sejarah Islam telah membuktikan keberadaan ekosistem tersebut. Dari majelis-majelis ilmu di Madinah, berkembang tradisi periwayatan hadis yang sangat ketat.

Dari semangat membaca, lahir gerakan penerjemahan besar di Baghdad, perpustakaan-perpustakaan megah, hingga ilmuwan yang karya-karyanya menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Peradaban Islam tidak dibangun oleh orang yang paling cepat memperoleh informasi, melainkan oleh mereka yang paling sabar dalam menuntut ilmu.

Hari ini, tantangan yang kita hadapi telah berubah. Musuh terbesar literasi bukan lagi masalah buta huruf.

Musuh nyata literasi saat ini adalah budaya scroll. Sekilas, menggulir layar tampak seperti kegiatan sederhana yang hanya melibatkan beberapa sentimeter gerakan ibu jari.

Namun di balik gerakan kecil itu, perusahaan-perusahaan teknologi dunia menggelontorkan miliaran dolar. Mereka mempekerjakan ahli psikologi, ilmuwan perilaku, ilmuwan data, dan insinyur kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Semua itu dilakukan hanya untuk menjawab satu pertanyaan: bagaimana membuat manusia bertahan lebih lama di depan layar? Kini, yang diperebutkan di dunia digital bukan lagi sekadar uang.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button