Pejuang Pendidikan Muslimah Syekhah Rahmah el Yunusiah jadi Pahlawan Nasional
Rahmah, dengan keluasan jaringan pertemanannya, kerap menjumpai para raja-raja Melayu untuk menjelaskan pentingnya pergerakan pendidikan bagi kaum perempuan. Pada periode 1930-an, kesulitan keuangan lembaga tersebut cukup terbantu dengan dibentuknya Centraal Comite Penolong Diniyah Putri yang dipimpin H Agus Salim.
Sepanjang hayatnya, Rahmah el-Yunusiah memilih sikap tidak-bekerja sama (non-kooperasi) terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dia tidak sudi menukarkan jerih payahnya itu dengan ketundukan kepada sistem Belanda.
Melawan Diskriminasi
Pada 1932, penguasa menerbitkan aturan diskriminatif terhadap penduduk pribumi, yakni Ordonansi Sekolah Liar. Dengan begitu, pemerintah kolonial dapat mengecap sekolah-sekolah yang berdiri atas inisiatif pribumi sebagai terlarang.
Rahmah tidak tinggal diam. Dia bahkan memimpin Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar di Padang Panjang. Hubungan antara kaum terpelajar Minang dan pemerintah kolonial cukup memanas. Puncaknya adalah kasus Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) masih di tahun 1932.
Tiga orang tokoh muda Muslim Minangkabau ditangkap Belanda untuk kemudian dibuang ke Digul (Papua), yakni Mochtar Lutfi, Iljas Ja’coub dan Djalaluddin Thaib. Ada pula tokoh yang lebih muda, Abdul Gaffar Ismail (ayahanda penyair Taufiq Ismail) yang juga ikut ditangkap Belanda untuk kemudian diasingkan ke Pekalongan, Jawa Tengah.
Rahmah el Yunusiah sekuat tenaga memimpin Diniyah Putri setidaknya selama 46 tahun. Acapkali, dia mengorbankan harta miliknya demi keberlangsungan lembaga edukasi tersebut. Upayanya berbuah manis. Dalam beberapa tahun, Diniyah Putri berkembang pesat. Fasilitas perpustakaannya selalu lengkap dengan koleksi-koleksi buku berbagai bahasa, termasuk Indonesia (Melayu), Arab, Inggris, Belanda, dan Prancis.
Diniyah Putri ikut pula mempelopori hadirnya taman kanak-kanak (freubel school) di Ranah Minang. Kemudian, dibuka pula Junior School (sekolah dasar) yang berjenjang hingga ke tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah. Puncaknya, dalam masa kepemimpinan Rahmah, pada 1937 Diniyah Putri mendirikan program Kulliyah al-Mu’allimat al-Islamiyah. Itu merupakan ajang mendidik para perempuan calon guru tiga tahun lamanya.
Kabar kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak langsung menyebar merata ke seluruh Tanah Air. Namun, begitu berita ini tiba di Sumatra Barat, Rahmah el Yunusiah terpompa semangatnya. Rahmah memperoleh berita Proklamasi dari Engku Syafei selaku ketua Badan Penasehat Pusat (Chuo Sangi In) cabang Sumatra Tengah. Konon, perempuan itulah yang pertama kali di Sumatra Barat mengibarkan bendera Merah Putih sesudah Indonesia resmi merdeka.
Pada masa revolusi, Rahmah mempelopori pembentukan tentara keamanan rakyat (TKR) serta mengumpulkan laskar-laskar pejuang Muslim yang berada di banyak organisasi Sumatra Barat. Tak mengherankan bila ia berjulukan Bundo Kanduang para pejuang. Perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan berujung manis. Pada 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, meskipun minus Papua Barat. Rahmah lantas kembali sepenuhnya ke dunia pendidikan.
Dia terus berupaya memajukan kegiatan belajar-mengajar di Diniyah Putri Padang Panjang sehingga menjadi panutan. Dalam pada itu, Indonesia menuai perhatian dari dunia Islam sebagai negeri mayoritas Muslim yang baru saja berhasil merebut kedaulatan. Pada 1955, Rektor Universitas al-Azhar Kairo saat itu, Dr Syaikh Abdurrahman Taj berkesempatan mengunjungi Indonesia. Dia juga menyambangi Padang Panjang, termasuk Diniyah Putri yang dikepalai Rahmah el Yunusiah.
Seperti dituturkan Taufiq Ismail dalam tulisannya, rektor al-Azhar Kairo ketika itu begitu terpana melihat bagaimana hebatnya sistem dan praktik pendidikan Islam di Diniyah Putri yang didirikan Rahma. Sebab, Syaikh Abdurrahman tidak menyangka bahwa ada lembaga pendidikan khusus Muslimah di negeri non-Arab.
Bahkan, Taufiq menyebut, sang rektor agak malu-malu lantaran Universitas al-Azhar sejak berdirinya sampai saat itu belum meruangkan pendidikan yang cukup kondusif bagi kaum hawa, tidak sebagaimana kaum pria. Kunjungannya ke Indonesia rupanya membuka kesadarannya dari sikap jumud. Usai melawat dari Indonesia, Syaikh Abdurrahman Taj mengumpulkan para pakar dan pemangku kepentingan di al-Azhar.
Hasilnya, Universitas al-Azhar akan membuka Kulliyatul Banat, yakni lembaga pendidikan khusus Muslimah. Salah satu kampus tertua di dunia itu mulai membuka seluas-luasnya kesempatan belajar di ranah pendidikan tinggi bagi kaum perempuan. Sebagai tanda apresiasi, pada 1957 pihak kampus al-Azhar mengundang Rahmah el-Yunusiah ke Kairo, Mesir, untuk dianugerahi gelar doktor kehormatan (honoris causa). Sejak saat itu, tokoh Muslimah Indonesia ini berhak menyandang sebutan Syaikhah.
Disadur dari Harian Republika edisi 3 September 2017





