#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Perang Terminologi: Cara Media Barat Membingkai Palestina

Dalam konteks ini, BBC menerbitkan laporan pada 27 Agustus 2024 berjudul “Para pemukim Israel merebut tanah Palestina di tengah perang dan berharap untuk menetap di sana secara permanen”.

Laporan BBC menggambarkan warga Israel yang merebut tanah Palestina sebagai “pemukim”, sementara pendudukan tanah Palestina digambarkan sebagai “perebutan” dan “pengambilalihan”.

Dalam konteks terkait, Associated Press menerbitkan laporan pada 3 Februari 2026 tentang pendudukan Israel atas tanah di Tepi Barat. Laporan tersebut menggambarkannya sebagai “tindakan Israel yang bertujuan mengonsolidasikan kendali atas Tepi Barat”.

Melalui kerangka seperti ini, Associated Press menyampaikan realitas pendudukan di Tepi Barat dengan eufemisme yang meremehkan tingkat keparahannya, menggunakan istilah seperti “kendali” dan “tindakan”.

Narasi Demokrasi dan “Pasukan Pertahanan”

Media lain juga kerap menggambarkan Israel sebagai “satu-satunya demokrasi sekuler di Timur Tengah”, sementara tentara Israel ditampilkan sebagai “pasukan pertahanan”.

Contoh lain dari pendekatan yang tidak realistis dan menyesatkan dalam liputan media internasional mengenai Palestina adalah penggunaan istilah “ketegangan” untuk menggambarkan serangan dan penyerangan Israel terhadap warga Palestina.

Pendudukan tanah Palestina juga kerap disebut sebagai “perebutan” atau “pengambilalihan tanah”, bukan sebagai pendudukan atau kolonialisme pemukim.

Selain itu, media Barat sering secara sengaja menggambarkan praktik Israel terhadap Palestina sebagai “pembalasan”. Sebaliknya, tindakan Palestina atau pihak lain di kawasan itu kerap disebut sebagai “serangan”, “provokasi”, atau “tindakan agresi”.

Menurut studi dan laporan investigasi tentang subjek ini, istilah “pembalasan” digunakan dalam sekitar 79 persen liputan media di Amerika Serikat dan Inggris untuk menggambarkan tindakan Israel. Sementara itu, istilah yang sama hanya digunakan dalam 9 persen laporan berita mengenai tindakan dan praktik Palestina.

Dengan demikian, serangan Israel disajikan sebagai “pembalasan” untuk memberi kesan sebagai respons yang sah dan perlu.

“Kedua Belah Pihak” dan Netralitas yang Menyesatkan

Media Barat juga sering menggunakan ungkapan “kedua belah pihak” dalam liputan mereka tentang Palestina. Sekilas, ungkapan ini tampak netral. Namun, dalam praktiknya, ia menciptakan kesan netralitas yang salah.

Wacana ini menempatkan Israel dan rakyat Palestina yang hidup di bawah pendudukan pada tingkat yang sama. Akibatnya, ketidaksetaraan mendasar menjadi kabur, realitas pendudukan tersamarkan, dan publik terhalang untuk memahami konteks sebenarnya secara akurat.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button