OPINI

Permata Kehidupan

Walaupun dibalut kemiskinan, namun tetap menjaga kehormatannya hingga orang menduga mereka kaya dan berkecukupan. Seseorang yang merasa cukup dengan apa yang diraihnya adalah qana’ah (kaya hati). Sebab, kekayaan sejati bukan pada keberlimpahan harta, tetapi keluasan hati (HR. Bukhari-Muslim). Ketika orang miskin tidak menunjukkan kemiskinan, apalagi meminta-minta, itulah permata yang menghiasi kehidupannya.

Kedua, Kitmanu al-ghadabi hatta yadzunna an-naasa annaka raadhin. (Menyembunyikan kemarahan hingga orang menduga bahwa engkau rela).

Salah satu akhlak terpuji yang sulit dilakukan orang beriman dan tanda ketakwaan adalah menahan amarah (QS. Ali Imran [3]: 134). Orang yang tersinggung dan naik pitam karena dihina atau dizalimi, di saat ia mampu membalas namun menahan atau menyembunyikan kemarahannya, adalah permata kehidupan yang sangat mahal.

Orang yang berlapang dada tidak mudah marah kecuali berkaitan dengan agamanya. Namun, walaupun ia marah, tidak menghilangkan kehormatannya. Kesanggupan untuk menyembunyikan kemarahan adalah bentuk kematangan diri yang hanya bisa dilakukan orang-orang pilihan yang hatinya telah dicerahkan.

Nabi SAW membagi orang marah itu dalam empat kelompok, yakni ada yang cepat marah tetapi lama reda (paling buruk), cepat marah dan mudah reda, lambat marah dan lambat reda, serta lambat marah tetapi mudah reda (paling baik) (HR. Ahmad).

Selagi bisa, sebagaimana pesan Nabi SAW, “Jangan marah, niscaya bagimu surga.” (HR. At-Thabrani).

Ketiga, Kitmanu asy-syiddati hatta yadzunna an-naasa annaka mutana’im (Menyembunyikan kesusahan hingga orang menduga engkau berlimpah kenikmatan).

Setiap orang punya masalah sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya masing-masing. Sebenarnya, kehidupan dunia ini tidak akan lepas dari masalah (persoalan yang mesti dijawab atau diselesaikan). Perbedaannya adalah kesanggupan dalam bersikap dan bertindak dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Setiap orang berbeda pula dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi, sesuai dengan ilmu dan pengalaman hidupnya. Seorang yang mampu menyembunyikan kesusahan atau penderitaan hidupnya sampai orang lain menduga ia dalam kecukupan atau ketenangan adalah permata yang langka dan mahal harganya.

Dahulu, almarhumah emak pernah menasihati, “Nak, walau seberat apa pun penderitaan yang dihadapi, jangan kau tampakkan di wajahmu ketika berada di hadapan orang lain.”

Ketika banyak orang menampakkan kesusahan di media sosial agar mendapat iba orang lain, ia tetap diam dalam keteguhan batin bahwa ada Zat Yang Maha Kaya yang membersamainya. Segala keluh kesah, gundah gulana dan kesedihan, serta impitan beban hidup yang menyesakkan dada, ia adukan kepada Allah SWT (HR. Bukhari).

Walhasil, keindahan pribadi seorang Muslim itu terletak pada akhlak dan adabnya yang mulia. Ketika diberikan nikmat berlimpah, ia bersyukur dengan membagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ketika ia tidak diberi kecuali sedikit (sempit rezeki), ia bersabar dan tidak menampakkannya kepada orang lain agar mendapatkan belas kasihan.

Siapa saja yang mampu menyembunyikan kefakirannya hingga orang menduga ia berkecukupan, menyembunyikan kemarahan hingga disangka rela menerima, dan menyembunyikan kesusahan hingga dikira orang hidup berkelebihan, maka ia telah memperoleh permata kehidupan yang indah dipandang mata manusia dan mulia di hadapan Allah SWT.[]

Dr. Hasan Basri Tanjung
(Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/Ketua Yayasan Dinamika Umat)

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button