MUHASABAH

Tiga Tempat yang Berkesan

Sejatinya, setiap sudut ruang di muka bumi ini penuh makna dan kesan bagi kehidupan manusia. Artinya, tidak ada satu tempat pun yang hampa atau tak punya cerita, akan tetapi penuh arti siapa saja yang mau mengambil pelajaran (’ibrah). Tidak ada satu bagian pun dari alam semesta yang percuma tanpa tujuan. “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (QS. Ali ‘Imrān [3]:191).

Oleh karena itulah, Allah SWT. menyuruh manusia berkelana ke berbagai penjuru dunia, dari wilayah timur ke barat dan dari utara ke selatan agar menyaksikan bekas-bekas peninggalan kaum terdahulu yang pernah berjaya. ”Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah). Oleh karena itu, berjalanlah di (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul)” (QS. Ali Imran [3]: 137).

Namun demikian, jika seorang tak dapat mengambil kesan dan pesan dari setiap tempat yang terbentang di hadapannya, maka ada tempat khusus yang akan memberikan arti bagi kehidupannya. Terutama, bagi siapa saja yang merasa tak beruntung dengan raihan yang didapatkan dan mengeluh atas berbagai kesulitan yang dihadapi atau beban hidup yang dipikulnya. Begitu pula bagi mereka yang menyangka Tuhan tidak berlaku adil terhadap dirinya yang sudah berbuat kebaikan, taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sementara, orang yang berbuat buruk luput dari masalah dan kesusahan.

Petuah ahli hikmah yang dikutip dari Akun Ustaz Jayadi Amir patut direnungkan bagi siapa saja yang kehilangan makna hidup atau merasa paling menderita, sehingga sirna rasa syukur atas karunia Allah SWT. ”Hatta tafhama al-hayaata ’alaika an tazuura tsalaatsata amaakin; almustasyfaa wa as-sijna wa al-maqbarah” (agar memahami arti kehidupan, maka hendaklah engkau mengunjungi tiga tempat, yakni rumah sakit, penjara dan kuburan).

Pertama, kunjungilah rumah sakit dimana orang-orang yang ditimpa malapetaka dan penyakit tergeletak lemah berharap kesembuhan. Sebab, di rumah sakit engkau akan melihat dan menemukan bahwa tiada yang paling indah selain kesehatan. Semahal dan semewah apapun rumah sakit tidak akan menyenangkan, apalagi ingin tinggal lama di dalamnya. Setiap orang yang dirawat hanya berharap bisa segera pulang atau rawat jalan di rumah bersama keluarga. Uang hanya bisa membeli obat dan fasilitasnya, akan tetapi tidak bisa membeli kesehatan. Tidak ada sakit yang disenangi apalagi penyakit parah dan kronis sehingga tak berdaya lagi melakukan apa saja.

Jika kita merasa tak beruntung atau berguna dengan karunia yang diraih, maka jeguklah mereka yang tengah sakit atau di ruang ICU yang bernafas dengan oksigen dan makan melalui selang. Ketika itu kita akan sadar bahwa tiada yang paling indah selain kesehatan dan tumbuh rasa syukur, walaupun banyak kekurangan dan kesulitan. Nabi SAW. menyuruh menjenguk orang sakit, selain untuk menghibur mereka tetapi juga menjadi pelajaran agar kita bersyukur atas karunia sehat yang tak ternilai harganya (HR. Ahmad).

Kedua, kunjungilah penjara dimana para narapida menjalani hukuman atau mereka yang melakukan tindak kriminal menanti proses hukum di pengadilan. Sebab, di penjara engkau akan melihat dan menemukan bahwa tiada yang paling indah selain kebebasan. Kebebasan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia, sehingga setiap pengekangan terhadap kebebasan, baik dalam bentuk pisik maupun non fisik adalah derita yang sangat menyiksa diri.

Ketika kita merasa tak beruntung atau bermakna dalam kehidupan karena kesusahan atau tidak bisa memberi kemanfaatan, maka kunjungilah orang-orang di penjara dengan segala hukuman berat yang mereka jalani. Walapun ada penjara mewah dengan segala fasilitas untuk penghuni yang berduit seperti yang ditemukan beberapa waktu lalu di Cibinong Bogor, namun tetap saja hidup di penjara menderita dan terasa lama. Apalagi mereka yang berada di kamar tahanan dengan kapasitas lebih (menumpuk), kamar mandi yang tidak memadai, bau dan panas, tindak kekerasan sesama narapidana dan sebagainya. Ketika melihat wajah-wajah di balik jeruji besi maka kita akan sadar bahwa tiada yang paling indah selain kebebasan. Betapa besar nilai karunia kebebasan dapat berkumpul dengan keluarga tercinta, bekerja dan beramal saleh sebagai bekal kembali tanpa rasa takut, tekanan dan ancaman (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

Ketiga, kunjungilah kuburan dimana manusia yang telah mati menjalani kehidupan alam barzakh sampai hari kiamat tiba. Sebab, di kuburan engkau akan melihat dan menemukan bahwa dunia ini tidak layak untuk disombongkan, karena tanah yang dipijak akan menjadi atap dan mengimpitkan diri. Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan akan meninggalkan kehidupan dunia yang fana, walapun ia seorang penguasa yang bisa berbuat apa saja atau pengusaha kaya raya yang memilik apa saja. Akhir dari perjalanan hidup di dunia ini adalah kuburan yang sempit, walaupun ada kuburan yang menyediakan fasilitas dan asesoris mewah, malaikat nungkar dan nakir tidak peduli dan akan tetap menjalankan tugasnya dengan tegas.

Ketika kita merasa hidup tidak berarti maka iringilah jenazah ke pemakaman atau ziarah kepada kaum kerabat yang wafat. Mereka yang kembali ke haribaan Ilahi dengan bekal amal saleh akan tersenyum dan tenang seperti guru dan sahabat terbaik kami alm. Buya Ibdalsyah Munir (Sabtu, 3 Oktober 2026). Namun, mereka yang mati dalam keangkuhan tidak bisa lagi berbuat apa pun dan akan menjalani siksa kubur. Orang yang selama hidupnya angkuh dan dzalim tidak bisa pergi ke kuburan, tetapi harus ditandu dan ditanam dengan injakan yang keras. Oleh karena itu, Nabi SAW. menyuruh kita ziarah kubur agar bisa mengambil pelajaran bahwa kematian menjadi nasehat berharga bahwa hidup ini sementara untuk menyiapkan bekal kembali (HR. Ibnu Majah).

Agama Islam memberi pedoman bahwa dunia ini adalah tempat beramal (daar al-’amal), terserah mau berbuat baik atau buruk, sebab kelak di akhirat akan dibalas sesuai dengan perbuatannya (daar al-jaza`). Kita diberi dua jalan kebaikan yakni ketika mendapat karunia bersyukur dan jika ditimpa petaka bersabar (HR. Muslim). Karunia Allah SWT. tak terkira, namun kebanyakan manusia tidak pandai bersyukur (QS. An-Naml [27] :73).

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan, ”… Oleh karena sempurna dan berkekalan karunia Allah, kita pun lupa bahwa nikmat itu ada. Setelah sekali-kali Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, barulah manusia bergoncang dan gelisah. Dalam ayat ini dikatakan bahwa kebanyakan diantara manusia tidaklah bersyukur, tidak berterimakasih. Kebanyakan manusia masih saja mengeluh mengingat kekurangan. Loba dan tamak dan perasaan tidak puas dengan yang telah ada menyebabkan kehidupan kebanyakan manusia itu lebih banyak berangan-angan”.

Walhasil, manusia sering lupa bersykur atas karunia yang ada dan mengeluh akan apa yang belum dimiliki. Lalu, merasa hidup tidak beruntung atau berguna, bahkan menuduh Tuhan tidak adil. Hingga, dalam surah Ar-Rahman diulang-ulang 31 kali ”Lalu nikmat Tuhanmu mana lagi yang kalian dustakan”? Ketika merasa hidup tak bermakna lagi, maka kunjungilah rumah sakit, penjara dan kuburan. Namun, jika ketiga tempat tersebut tidak bisa membuka hati dan pikiran, boleh jadi kita telah menjadi mayit yang berjalan yakni oarang yang mati sebelum mati. Allahu a’lam bish-shawab.

Hasan Basri Tanjung
Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/Ketua Yayasan Dinamika Umat

Back to top button