Permata Kehidupan
Sejatinya, kepribadian seorang Muslim merupakan perpaduan dari berbagai aspek yang tumbuh dalam diri (kekuatan internal). Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberikan gambaran jelas dan nyata tentang bagaimana profil ideal seorang Muslim di tengah masyarakat yang beragam, sehingga tampil berbeda, meyakinkan, dengan identitas diri yang unik dan mengagumkan.
Seorang Muslim (mukmin) itu bagaikan sebuah pohon yang berdiri kokoh dan tinggi, lalu berbuah enak yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Dalam Al-Qur’an, ia diumpamakan (amtsal) seperti pohon.
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit, dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim [14]: 24–25)
Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafsir Jaami’ul Bayaan menjelaskan hakikat pohon yang baik tersebut, yakni akarnya menghunjam ke tanah, batangnya menjulang ke langit, dan berbuah sepanjang musim, yakni an-nakhlun (pohon kurma). Beliau pun menegaskan bahwa “al-mu’minu ka an-nakhl” (seorang mukmin itu bagaikan pohon kurma), yakni akarnya kuat menancap ke bumi, batangnya besar dan kokoh menjulang tinggi, serta berbuah setiap masa atau musim (tidak pernah berhenti berbuah), rasanya enak dan berkhasiat tinggi.
Begitu pun Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (hlm. 3808) menjelaskan dengan indah:
“Maka dengan sendirinya inilah yang menghasilkan buah yang lebat, selalu berbuah dengan tiada mengenal musim. Betapa pun hebatnya angin ribut, taufan halimbubu, yang tadi telah menghembuskan segala debu dan menumbangkan sekalian bangunan yang tidak berdasar, namun pohon yang baik ini tetap tegak dengan jayanya. Dan walaupun datang kemarau panjang sehingga banyak tumbuh-tumbuhan yang mati karena tidak mendapat siraman air hujan, apalagi sumur-sumur pun telah kering, namun pohon ini tetap tegak dengan daunnya yang menghijau dan berbuah, sebab uratnya jauh terhunjam ke petala bumi, tempat yang ada air.”
Jika akar yang menghunjam ke perut bumi adalah akidah tauhid (iman), batang dan dahan yang menjulang itu syariah (ibadah), maka buahnya adalah akhlak (adab). Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, sebab akar yang kuat akan menumbuhkan batang pohon yang besar dan tinggi, lalu berbuah banyak dan enak. Sebaliknya, akar yang rapuh dan dangkal akan menumbuhkan batang pohon yang kecil dan goyah, buahnya kecil dan sedikit. Namun demikian, sebuah pohon selalu dikenang dan dikenal dari buahnya, bukan dari akar dan batangnya. Pepatah Arab mengatakan, “Yu’rofu asy-syajaratu bi tsamaariha” (pohon itu dikenal karena buahnya).
Baginda Rasulullah Muhammad SAW juga menekankan betapa akhlak (adab) menjadi tanda kesempurnaan iman seseorang, sebab ia menjadi representasi dari kekuatan iman dan ibadah.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. At-Tirmidzi)
Mengenai keindahan akhlak (adab) pada sikap dan perilaku seorang Muslim, teringat akan petuah Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah yang dinukil oleh Imam Al-Bayhaqi dalam kitab Manaaqib Asy-Syaafi’i (Juz 2, hlm. 188):
“Jauharu al-mar’i fii khilali tsalatsin” (permata atau perhiasan hidup seseorang tampak pada tiga keadaan).
Pertama, Kitmanu faqri hatta yadzunna an-naasu min ‘iffatika annaka ghaniyyun. (Menyembunyikan kefakiran hingga orang menduga bahwa engkau orang kaya dengan kehormatanmu).
Ketika orang kaya raya menampakkan kekayaannya adalah wajar, asalkan tidak sombong dan zalim. Ketika mereka tidak menampakkannya, bahkan hidup bersahaja, maka mereka telah bersikap zuhud. Artinya, dunia hanya diletakkan di genggaman tangan, tetapi tidak merasuk ke hatinya.
Walaupun dibalut kemiskinan, namun tetap menjaga kehormatannya hingga orang menduga mereka kaya dan berkecukupan. Seseorang yang merasa cukup dengan apa yang diraihnya adalah qana’ah (kaya hati). Sebab, kekayaan sejati bukan pada keberlimpahan harta, tetapi keluasan hati (HR. Bukhari-Muslim). Ketika orang miskin tidak menunjukkan kemiskinan, apalagi meminta-minta, itulah permata yang menghiasi kehidupannya.
Kedua, Kitmanu al-ghadabi hatta yadzunna an-naasa annaka raadhin. (Menyembunyikan kemarahan hingga orang menduga bahwa engkau rela).
Salah satu akhlak terpuji yang sulit dilakukan orang beriman dan tanda ketakwaan adalah menahan amarah (QS. Ali Imran [3]: 134). Orang yang tersinggung dan naik pitam karena dihina atau dizalimi, di saat ia mampu membalas namun menahan atau menyembunyikan kemarahannya, adalah permata kehidupan yang sangat mahal.
Orang yang berlapang dada tidak mudah marah kecuali berkaitan dengan agamanya. Namun, walaupun ia marah, tidak menghilangkan kehormatannya. Kesanggupan untuk menyembunyikan kemarahan adalah bentuk kematangan diri yang hanya bisa dilakukan orang-orang pilihan yang hatinya telah dicerahkan.
Nabi SAW membagi orang marah itu dalam empat kelompok, yakni ada yang cepat marah tetapi lama reda (paling buruk), cepat marah dan mudah reda, lambat marah dan lambat reda, serta lambat marah tetapi mudah reda (paling baik) (HR. Ahmad).
Selagi bisa, sebagaimana pesan Nabi SAW, “Jangan marah, niscaya bagimu surga.” (HR. At-Thabrani).
Ketiga, Kitmanu asy-syiddati hatta yadzunna an-naasa annaka mutana’im (Menyembunyikan kesusahan hingga orang menduga engkau berlimpah kenikmatan).
Setiap orang punya masalah sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya masing-masing. Sebenarnya, kehidupan dunia ini tidak akan lepas dari masalah (persoalan yang mesti dijawab atau diselesaikan). Perbedaannya adalah kesanggupan dalam bersikap dan bertindak dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Setiap orang berbeda pula dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi, sesuai dengan ilmu dan pengalaman hidupnya. Seorang yang mampu menyembunyikan kesusahan atau penderitaan hidupnya sampai orang lain menduga ia dalam kecukupan atau ketenangan adalah permata yang langka dan mahal harganya.
Dahulu, almarhumah emak pernah menasihati, “Nak, walau seberat apa pun penderitaan yang dihadapi, jangan kau tampakkan di wajahmu ketika berada di hadapan orang lain.”
Ketika banyak orang menampakkan kesusahan di media sosial agar mendapat iba orang lain, ia tetap diam dalam keteguhan batin bahwa ada Zat Yang Maha Kaya yang membersamainya. Segala keluh kesah, gundah gulana dan kesedihan, serta impitan beban hidup yang menyesakkan dada, ia adukan kepada Allah SWT (HR. Bukhari).
Walhasil, keindahan pribadi seorang Muslim itu terletak pada akhlak dan adabnya yang mulia. Ketika diberikan nikmat berlimpah, ia bersyukur dengan membagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ketika ia tidak diberi kecuali sedikit (sempit rezeki), ia bersabar dan tidak menampakkannya kepada orang lain agar mendapatkan belas kasihan.
Siapa saja yang mampu menyembunyikan kefakirannya hingga orang menduga ia berkecukupan, menyembunyikan kemarahan hingga disangka rela menerima, dan menyembunyikan kesusahan hingga dikira orang hidup berkelebihan, maka ia telah memperoleh permata kehidupan yang indah dipandang mata manusia dan mulia di hadapan Allah SWT.
Dr. Hasan Basri Tanjung
(Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/Ketua Yayasan Dinamika Umat)






