NUIM HIDAYAT

Pentingnya Tauhid dalam Kehidupan Umat

Oleh: Nuim Hidayat (Direktur Forum Studi Sosial Politik)

Perbedaan mendasar antara orang kafir dan seorang Muslim terletak pada persoalan tauhid. Tauhid adalah keyakinan mutlak bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt.

Seorang Muslim menjalani kehidupan di dunia ini semata-mata karena Allah Swt. Ia senantiasa mengharapkan Allah Swt. memberikan jalan keluar atas segala problematika hidup dengan berpegang teguh pada perintah-Nya dan ajaran Rasulullah saw.

Sebaliknya, orang-orang kafir—karena keyakinannya kepada Tuhan rendah atau bahkan tidak percaya keberadaan Tuhan—menjalani kehidupan hanya berdasarkan akal dan hawa nafsu. Hawa nafsu dan tipu daya setan telah menyelubungi mereka sehingga timbul kebencian terhadap Al-Qur’an dan Rasulullah saw.

Mereka lebih memilih menuruti hawa nafsu daripada mengikuti petunjuk mulia Al-Qur’an dan Rasulullah saw. Ketidakpercayaan terhadap hari akhirat mendorong mereka untuk menikmati dunia secara berlebihan dan mengabaikan norma moralitas.

Akibat hilangnya cahaya tauhid, muncul berbagai kezaliman global seperti pembelaan terhadap penyimpangan moral, perzinahan, hingga perampasan hak-hak kedaulatan bangsa lain. Kezaliman ini terlihat jelas dalam dukungan terhadap penindasan atas bangsa Palestina dan pemerasan terhadap negara-negara berkembang.

Negara-negara imperialis kerap menindas bangsa lain demi mengejar pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan kesejahteraan domestik mereka sendiri. Mereka mengabaikan penderitaan, kelaparan, dan kerusakan yang dialami oleh bangsa lain.

Tragedi Gaza menjadi contoh nyata kehancuran nurani akibat krisis ketauhidan. Jutaan penduduk Gaza berada dalam penderitaan hebat akibat blokade dan aksi militer yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketika tauhid hilang, tolok ukur kehebatan suatu bangsa hanya dinilai dari kemegahan fisik, seperti tingginya gedung dan kekuatan militer semata. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk melihat segala sesuatu secara lahir dan batin, tidak hanya tertipu oleh penampakan luar semata.

Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang yang mengabaikan petunjuk-Nya:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (menjadi penghuni) Jahanam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Peradaban yang mengagungkan materialisme tanpa dilandasi wahyu Ilahi hanya akan melahirkan kesombongan dan penindasan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan duniawi yang tampak berkilau tanpa iman pada akhirnya hanyalah tipu daya yang memperdaya.

Manusia yang memiliki jiwa tauhid tidak akan mudah tertipu oleh kemegahan lahiriah. Tauhid memandu akal sehat untuk menilai kebaikan suatu bangsa dari akhlak dan keadilannya, bukan dari dominasi militer atau kekayaan semata.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button