#Perang Iran vs AS-IsraelLAPSUS

Pete Hegseth Membawa “Perang Salib Amerika” ke Perang Melawan Iran

Zionisme Kristen dan keberpihakan kepada Israel

Pandangan dunia Hegseth juga mencakup Zionisme Kristen, yang memandang dukungan terhadap pendudukan Israel bukan sekadar aliansi strategis, tetapi sebagai kewajiban religius. Dalam sidang konfirmasi jabatannya, ia mengatakan:

“Saya seorang Kristen, dan saya sangat mendukung negara Israel serta pembelaan eksistensialnya dan bagaimana Amerika berdiri bersama mereka sebagai sekutu besar.”

Ia mengaitkan nubuat Alkitab dengan kebijakan luar negeri AS, membingkai perang-perang kontemporer di Asia Barat sebagai bagian dari rencana ilahi. Para ahli mengatakan pandangan ini selaras dengan arus eksepsionalisme Amerika dan nasionalisme Kristen yang melihat konflik geopolitik dalam istilah spiritual.

Pengaruh agama di Pentagon

Hegseth juga secara aktif mempromosikan inisiatif keagamaan di militer. Ia berupaya membentuk ulang Korps Chaplain agar lebih menekankan Tuhan dan iman daripada bahasa sekuler, menyiarkan doa bulanan di seluruh Pentagon, dan mengundang pendeta dengan pandangan nasionalis Kristen untuk berbicara kepada pasukan.

Para kritikus, termasuk Military Religious Freedom Foundation, memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu dapat mengasingkan anggota militer yang sekuler dan berisiko menampilkan Amerika seolah sedang menjalankan perang bernuansa agama.

Pendiri organisasi tersebut, Mikey Weinstein, mencatat bahwa beberapa komandan bahkan membahas konflik dengan Iran dalam istilah apokaliptik, yang dapat memicu propaganda ekstremis di luar negeri.

Para akademisi menggambarkan pandangan dunia Hegseth sebagai kombinasi nasionalisme Kristen dan eksepsionalisme Amerika, yang membingkai konflik seperti perang AS melawan Iran sebagai perjuangan moral dan kosmis. Daniel Hummel, direktur Lumen Center, menjelaskan bahwa perspektif ini menggambarkan Iran sebagai pihak yang secara mendasar bertentangan dengan nilai-nilai orang Amerika dan sekutu mereka di Israel.

Sementara itu, profesor politik dan agama Allyson Shortle mencatat bahwa meskipun pandangan Hegseth berada di pinggiran, sekitar setengah warga Amerika mendukung suatu bentuk ideologi nasionalisme Kristen.

Sebelumnya, profesor hubungan internasional John Heathershaw dari University of Exeter mengatakan kepada Premier Christian News bahwa membingkai serangan sebagai “perang suci” tidak memiliki dasar Alkitab, melainkan “upaya sebagian kalangan gereja di Amerika Serikat untuk menyelaraskan diri dengan kekuasaan politik, bukan cerminan teologi Alkitab yang sehat.”[]

Sumber: CNN/Al Mayadeen

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button