Piala Dunia Mengungkap Kontradiksi Identitas Nasional
Tim-tim yang dibentuk oleh migrasi dan diaspora sedang menantang gagasan eksklusif tentang siapa yang dianggap sebagai bagian dari sebuah bangsa.
Kontradiksi Amerika Serikat
Kasus Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko merupakan contoh yang sangat jelas. Program politik Presiden Donald Trump, setidaknya sebagian, dibangun di atas politik keluhan (grievance) masyarakat kulit putih dan agenda antiimigrasi.
Trump berulang kali menggunakan narasi bahwa masyarakat kulit putih menjadi korban. Pada awal masa jabatan keduanya, ia mengeluarkan serangkaian kebijakan yang dinilai memperkuat narasi supremasi kulit putih.
Menurut Amnesty International, kebijakan tersebut memperkuat anggapan bahwa “kulit putih identik dengan identitas Amerika Serikat.” Narasi diskriminatif ini terus didorong melalui berbagai instrumen regulasi.
Setelah menangguhkan program penerimaan pengungsi Amerika Serikat pada hari pertama masa jabatan keduanya, Trump mengeluarkan perintah eksekutif baru. Perintah tersebut memprioritaskan pemukiman kembali warga Afrikaner kulit putih dari Afrika Selatan.
Pemerintahan di sana kemudian memperluas program tersebut dengan menyediakan 10.000 kuota pengungsi tambahan bagi warga kulit putih Afrika Selatan. Di sisi lain, pengungsi nonkulit putih tetap dikecualikan dari program ini.
Pemerintahan Trump juga melakukan tindakan keras terhadap para imigran yang sebagian besar berasal dari kelompok nonkulit putih. Pada tahun 2025, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) menangkap sekitar 400.000 imigran yang sebagian besar berakhir dideportasi.
Pada akhir Juni, ICE bahkan meningkatkan operasi dengan menangkap sekitar 10.000 imigran hanya dalam lima hari. Operasi besar-besaran tersebut memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pemerhati kemanusiaan.
Banyak pihak khawatir bahwa Piala Dunia 2026 akan lebih banyak diwarnai oleh praktik eksklusi daripada inklusi. Pesta olahraga ini terancam oleh kebijakan domestik yang diskriminatif.
Beberapa minggu sebelum turnamen dimulai, lebih dari 120 organisasi hak asasi manusia bersama-sama mengeluarkan peringatan perjalanan terkait Piala Dunia. Organisasi tersebut di antaranya meliputi Amnesty International, NAACP, dan American Civil Liberties Union (ACLU).
Kekhawatiran itu tampaknya terbukti di lapangan. Pemerintahan Trump menolak masuknya Omar Abdulkadir Artan, seorang wasit asal Somalia yang pernah meraih penghargaan.
Pemerintah setempat juga memberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat terhadap tim nasional Iran. Selain itu, penyerang Irak, Aymen Hussein, sempat ditahan selama tujuh jam saat tiba di Amerika Serikat.
Di tengah situasi yang penuh kontradiksi tersebut, tim nasional sepak bola pria Amerika Serikat (United States men’s national soccer team) berhasil mencapai babak 16 besar. Langkah mereka akhirnya dihentikan oleh tim nasional Belgia.
Enam pemain tim Amerika Serikat diketahui lahir di luar negeri. Selain itu, lebih dari separuh skuad tersebut memiliki kewarganegaraan ganda.






