Piala Dunia Mengungkap Kontradiksi Identitas Nasional
Tim-tim yang dibentuk oleh migrasi dan diaspora sedang menantang gagasan eksklusif tentang siapa yang dianggap sebagai bagian dari sebuah bangsa.
Sebagian penggemar kulit putih Amerika yang memenuhi berbagai stadion hampir pasti mencakup para pendukung Trump. Stadion-stadion tersebut tersebar di Boston, Dallas, Atlanta, Houston, Los Angeles, Seattle, dan kota-kota lainnya.
Ada ironi yang mencolok ketika anggota gerakan politik antiimigrasi berdiri di stadion sambil meneriakkan “USA”. Mereka mendukung tim nasional yang diperkuat oleh Folarin Balogun, Alejandro Zendejas, Haji Wright, dan pemain lain dari keluarga imigran.
Di negara tuan rumah utama inilah kontradiksi nasionalisme tersebut terlihat paling jelas. Fenomena ini menjadi sorotan tajam sepanjang turnamen berlangsung.
Piala Dunia kali ini, lebih daripada edisi-edisi sebelumnya, memperlihatkan rapuhnya nasionalisme modern. Gerakan-gerakan politik mungkin membayangkan bangsa sebagai komunitas yang homogen secara etnis, ras, atau budaya.
Namun, tim-tim yang mewakili bangsa-bangsa itu justru menceritakan kisah yang sangat berbeda. Tim nasional sepak bola merupakan hasil dari migrasi, diaspora, sejarah kolonial, dan perdebatan mengenai identitas.
Turnamen ini terus menggugat tentang siapa yang termasuk “kita” dan siapa yang dianggap “mereka”. Polarisasi tersebut runtuh di dalam lapangan hijau.
Mungkin, pada akhirnya, pelajaran terpenting dari Piala Dunia 2026 tidak berkaitan dengan bakat sepak bola, gaya bermain, atau strategi pelatih. Barangkali pelajaran yang paling bertahan lama adalah bahwa identitas nasional tidaklah sekaku yang dibayangkan oleh banyak kaum nasionalis.[]
Sumber: Aljazeera.com






