#Bebaskan PalestinaSUARA PEMBACA

Palestina dan Pentingnya Persatuan Umat

Setiap kali bom menghantam Gaza, dunia kembali dipenuhi kecaman. Setiap kali anak-anak Palestina gugur, media sosial dipenuhi doa dan air mata. Namun setelah itu, semuanya kembali sunyi. Palestina tetap dijajah. Masjid Al-Aqsa tetap berada dalam ancaman. Darah terus mengalir tanpa ada perubahan yang berarti.

Pertanyaannya, mengapa? Apakah karena umat Islam kekurangan jumlah? Tidak. Jumlah kaum Muslim telah mencapai miliaran jiwa.

Apakah karena umat Islam miskin sumber daya? Juga tidak. Negeri-negeri Muslim membentang dari Afrika hingga Asia dengan cadangan minyak, gas, mineral, jalur perdagangan, dan posisi geopolitik yang sangat strategis.

Apakah karena umat Islam tidak memiliki kekuatan militer? Banyak negeri Muslim memiliki angkatan bersenjata yang besar dan persenjataan modern.

Lalu, mengapa Palestina belum juga terbebaskan? Jawabannya bukan semata-mata terletak pada kuatnya musuh, melainkan pada rapuhnya tubuh umat itu sendiri.

Nasionalisme: Sekat yang Memecah Kekuatan

Penjajahan Palestina tidak bisa dilepaskan dari realitas politik dunia Islam saat ini. Negeri-negeri Muslim berdiri sendiri-sendiri sebagai negara bangsa (nation-state). Setiap pemerintahan memiliki kepentingan nasionalnya masing-masing, sehingga kebijakan luar negeri sering kali didasarkan pada pertimbangan ekonomi, diplomasi, keamanan, dan hubungan internasional.

Akibatnya, persoalan Palestina sering diposisikan sebagai urusan satu wilayah, bukan sebagai persoalan seluruh umat Islam.

Padahal Islam sejak awal membangun persatuan di atas akidah, bukan ras, suku, bahasa, ataupun batas geografis. Seorang Muslim di Indonesia, Turki, Mesir, Pakistan, ataupun Maroko dipersaudarakan oleh keimanan yang sama.

Ketika identitas kebangsaan menjadi lebih dominan daripada identitas keislaman, solidaritas umat pun melemah. Persatuan berubah menjadi slogan, sementara tindakan kolektif semakin sulit diwujudkan.

Penyakit Wahn yang Diperingatkan Rasulullah Saw

Lebih dari empat belas abad yang lalu, Rasulullah Saw telah memberikan peringatan yang sangat relevan.

Beliau bersabda bahwa suatu saat umat Islam akan diperebutkan oleh musuh-musuhnya sebagaimana orang-orang memperebutkan makanan di atas nampan. Ketika para sahabat bertanya apakah penyebabnya sedikitnya jumlah kaum Muslim, Rasulullah menjawab bahwa jumlah mereka banyak, tetapi mereka terkena penyakit wahn.

Beliau menjelaskan bahwa wahn adalah cinta dunia dan takut mati. Penyakit ini tidak hanya menyerang individu, tetapi juga dapat memengaruhi cara berpikir sebuah masyarakat dan arah kebijakan politik. Ketika mempertahankan kekuasaan, stabilitas ekonomi, atau kepentingan duniawi lebih diutamakan daripada keberanian membela keadilan, maka keberanian kolektif akan memudar.

Musuh tidak selalu menang karena lebih kuat. Terkadang mereka menang karena lawannya kehilangan keberanian.

1 2Laman berikutnya
Back to top button