Prof Irfan Jelaskan Tiga Pendekatan dalam Memahami Al-Qur’an dan Mendukung Ekonomi Islam
“Contoh sederhananya, kalau kita belum punya rekening bank syariah, maka bukalah. Walaupun masih ada kekurangan di perbankan syariah, minimal kita menunjukkan keberpihakan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa secara historis, sistem perbankan konvensional pernah membebani negara, seperti pada krisis ekonomi 1998, ketika pemerintah harus melakukan penyelamatan (bailout) menggunakan dana masyarakat.
Sementara perbankan syariah, itu tidak pernah membebani negara yang artinya tidak merugikan masyarakat. “Jadi bagaimanapun kondisi bank syariah, itu tidak pernah membebani negara,” tegas Irfan.
Dalam paparannya, Irfan juga menyinggung dinamika global sektor keuangan, di mana penguasaan Zionis terhadap sistem keuangan dinilai sangat menentukan arah ekonomi dan politik dunia.
“Secara global, Zionis sejak lama telah membangun institusi keuangan, mereka menjadikan negara Amerika Serikat sebagai kendaraan, caranya menguasai sektor keuangan karena itu merupakan denyut nadinya. Zionis memastikan otoritas keuangan di tangan mereka, dengan begitu mereka bisa atur kebijakan politiknya,” jelasnya.
Karena itu, untuk menghadapi situasi tersebut, umat Islam harus punya keberpihakan terhadap ajaran ekonomi Islam. Ia mengajak umat Islam untuk memperkuat ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan keadilan ekonomi.
“Pertarungan di bidang ekonomi ini adalah bagian dari jihad. Mari kita terus dukung berbagai institusi ekonomi Islam yang ada, sambil terus memperbaiki kekurangannya,” ujarnya.
Ia berharap, melalui penguatan keyakinan, peningkatan ilmu, dan pengamalan nyata, ekonomi syariah dapat berkembang lebih kuat dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. []






