Ribuan Umat Islam Shalati Jenazah Tiga Pahlawan yang Gugur di Masjid San Diego
Tragedi penembakan bermula sekitar pukul 11.43 waktu Pasifik (18.43 GMT), ketika Amin Abdullah, petugas keamanan pusat Islam tersebut, langsung terlibat baku tembak sengit dengan para remaja penyerang.
Polisi membeberkan bahwa Amin dengan sigap menggunakan radio komunikasinya untuk memerintahkan penutupan total (lockdown) di area masjid, yang saat itu menampung sekolah dasar dengan 140 siswa di dalamnya.
Tindakan cepatnya tersebut diakui menjadi penyelamat karena memberikan waktu yang sangat krusial bagi anak-anak dan staf sekolah untuk segera bersembunyi di dalam ruang kelas serta ruang penyimpanan.
Sementara itu, Nadir Awad, yang istrinya mengajar di pusat Islam tersebut dan tinggal tepat di seberang jalan masjid, langsung berlari menuju lokasi bersama Mansour Kaziha selaku juru masak sekaligus teknisi pusat Islam setelah mendengar rentetan suara tembakan demi memberikan bantuan.
Ketiga pria berhati baja tersebut akhirnya gugur akibat luka tembak yang sangat parah di tubuh mereka.
Para pelaku teror langsung melarikan diri dari masjid menggunakan kendaraan mereka dan belakangan ditemukan tewas bunuh diri dengan menembak diri mereka sendiri, demikian pernyataan resmi kepolisian.
Khaled Abdullah (24 tahun), putra dari mendiang petugas keamanan Amin Abdullah, menyatakan bahwa pihak keluarga mendapatkan kekuatan besar dari cara sang ayah menjemput syahidnya.
“Kenyataan bahwa ayah saya berada di garis depan, berjuang melindungi anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah, membuat hati kami tenang,” ungkap Khaled kepada kantor berita Reuters pada hari Rabu.
“Menyebutnya sebagai seorang pahlawan adalah hal paling minimal yang bisa kami lakukan untuk menghormati pengorbanannya,” tegas Khaled menutup pembicaraan.[]
Sumber: Reuters/Al Jazeera





