Ribuan Warga di London dan Paris Tuntut Gencatan Senjata Nyata di Gaza

London (SI Online) – Di bawah langit musim dingin yang kelabu, ribuan orang berkumpul di jantung dua ibu kota Eropa, menyerukan satu tuntutan yang sama: gencatan senjata segera di Gaza dan diakhirinya pengepungan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Aksi solidaritas yang digelar pada Sabtu lalu (14/2) di London dan Paris ini tidak hanya menjadi panggung dukungan bagi warga Gaza, tetapi juga suara bagi ribuan tahanan Palestina yang berada di balik jeruji penjara Israel. Di tengah kecaman internasional terhadap dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional oleh Israel, demonstrasi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan publik Eropa terhadap pemerintah mereka masing-masing.
London: Pita Merah di Jantung Kota
Di London, aksi solidaritas digelar di dekat Buckingham Palace sebagai bagian dari kampanye “Pita Merah”. Lokasi tersebut dipilih secara simbolis—di kawasan wisata dan pusat perhatian publik—untuk memastikan pesan tentang Gaza menjangkau khalayak seluas mungkin.
Penyelenggara menyatakan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menjaga isu Palestina tetap hidup dalam kesadaran publik Inggris, di tengah kekhawatiran bahwa perhatian dunia mulai bergeser dari krisis kemanusiaan di Gaza.
Para peserta membentangkan spanduk besar yang memuat data tentang 9.100 tahanan Palestina di penjara Israel. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3.500 orang ditahan dalam skema “tahanan administratif”—ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan—sekitar 400 di antaranya adalah anak-anak dan lebih dari 50 perempuan.
Di antara kerumunan, seorang ibu asal Manchester memegang foto seorang remaja Palestina yang ditahan tanpa proses hukum. “Anak saya seusia dia,” katanya lirih. “Tidak ada anak yang pantas tumbuh di balik jeruji tanpa diadili.”
Para demonstran menekankan bahwa praktik penahanan administratif dan penahanan anak-anak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Hak Anak dan Konvensi Jenewa. Mereka menyerukan akuntabilitas atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia.
Aksi tersebut juga berlangsung sehari setelah putusan Pengadilan Tinggi Inggris yang menyatakan bahwa penetapan kelompok Aksi Palestina sebagai organisasi teroris adalah melanggar hukum—putusan yang telah diajukan banding oleh pemerintah Inggris. Isu tersebut menambah dinamika politik domestik di tengah meningkatnya solidaritas publik terhadap Palestina.
Paris: Seruan Gencatan Senjata dan Akses Bantuan
Sementara itu di Paris, ratusan demonstran turun ke jalan atas seruan kelompok-kelompok hak asasi manusia. Mereka menuntut gencatan senjata segera di Gaza, pencabutan blokade, serta masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Di antara bendera Palestina dan poster bertuliskan “Ceasefire Now”, terdengar nyanyian dan pidato yang mengecam serangan militer Israel. Para peserta menyatakan bahwa tindakan tentara Israel di lapangan tidak mencerminkan komitmen tulus terhadap gencatan senjata.
Seorang mahasiswa di Sorbonne mengatakan bahwa aksi tersebut bukan sekadar solidaritas simbolik. “Kami menuntut pemerintah Barat berhenti memberi cek kosong politik kepada Israel. Tekanan nyata harus diberikan untuk menghentikan operasi militer dan memastikan perlindungan warga sipil.”






