Saat Algoritma Mengambil Alih Peran Pengasuhan Orang Tua
Ia tidak pernah lelah menemani, tidak pernah menolak mendengar, dan selalu menawarkan sesuatu yang baru. Sayangnya, perhatian yang diberikan algoritma bukanlah kasih sayang, melainkan strategi bisnis yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation (2024) menyebut bahwa masa kanak-kanak berbasis gawai (phone-based childhood) berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, kesepian, gangguan konsentrasi, dan berbagai persoalan kesehatan mental pada generasi muda. Yang hilang bukan sekadar waktu bermain, melainkan pengalaman membangun relasi yang sehat dengan manusia lain.
Kesadaran akan bahaya tersebut mulai mendorong berbagai negara mengambil langkah yang lebih tegas. Australia telah mengesahkan regulasi yang melarang anak di bawah usia 16 tahun memiliki akun di berbagai platform media sosial.
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat memperketat akses anak terhadap media sosial melalui persetujuan orang tua. Sementara itu, Prancis dan sejumlah negara Eropa terus memperdebatkan pembatasan usia serta penguatan perlindungan digital bagi anak.
Negara-negara maju mulai menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar isu teknologi, melainkan menyangkut kesehatan mental, kualitas pengasuhan, dan masa depan peradaban. Namun, regulasi hanya membatasi akses dan tidak dapat menggantikan kehadiran.
Di sinilah Al-Qur’an menawarkan pelajaran yang menarik. Jika dicermati, kitab suci ini berulang kali merekam dialog antara ayah dan anak.
Luqman berbicara panjang dengan putranya tentang tauhid, akhlak, dan tanggung jawab hidup (QS. Luqman: 13–19). Nabi Ibrahim a.s. berdialog dengan Nabi Ismail a.s. sebelum melaksanakan perintah penyembelihan (QS. Ash-Shaffat: 102–107).
Nabi Ya’qub a.s. mendengarkan mimpi Nabi Yusuf a.s., menasihatinya, lalu terus membangun komunikasi dengan anak-anaknya sepanjang kisah itu (QS. Yusuf). Bahkan, Nabi Nuh a.s. tetap memanggil putranya dengan penuh kasih di tengah datangnya banjir besar (QS. Hud: 42–43).
Menariknya, Al-Qur’an lebih sering menghadirkan pendidikan melalui percakapan ayah dan anak daripada melalui instruksi yang kaku. Ini tentu bukan berarti Islam mengurangi kedudukan ibu.
Justru Al-Qur’an berkali-kali mengangkat kemuliaan seorang ibu, pengorbanannya ketika mengandung dan menyusui, serta kewajiban anak untuk berbakti kepadanya. Namun, penekanan pada dialog ayah-anak menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pendidikan bukan sekadar mencari nafkah, melainkan membangun relasi, mendengar, membimbing, dan hadir secara emosional.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan ta’dib: penanaman adab agar manusia mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Adab tidak lahir dari banjir informasi, melainkan dari keteladanan.
Ia tumbuh melalui dialog, perhatian, dan kebersamaan. Tidak ada algoritma, secanggih apa pun, yang mampu menggantikan pengalaman seorang anak melihat ayahnya menepati janji, mendengar keluh kesahnya, atau mengajaknya berdiskusi tentang makna kehidupan.
Barangkali kita terlalu sering bertanya, “Berapa jam anak memegang gawai?” Padahal, pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Berapa lama ayah berbicara dengan anaknya hari ini?”






