Sering Gelisah Usai Main Ponsel? Waspadai Bahaya ‘Doomscrolling’
Instagram masih menjadi platform yang paling banyak digunakan, kemudian diikuti TikTok, X, dan Facebook.
Dengan durasi penggunaan yang tinggi tersebut, peluang seseorang terpapar konten negatif secara terus-menerus juga semakin besar.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki hubungan erat dengan penurunan kesehatan mental.
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah meningkatnya rasa cemas. Paparan informasi negatif secara terus-menerus membuat otak selalu berada dalam mode siaga sehingga sulit merasa tenang.
Selain itu, seseorang yang sering melakukan doomscrolling juga lebih rentan mengalami:
- Stres berkepanjangan.
- Pikiran negatif yang terus berulang.
- Rasa takut berlebihan terhadap kondisi sekitar.
- Perasaan terisolasi dan kesepian.
- Sulit berkonsentrasi.
- Penurunan produktivitas.
- Kelelahan emosional.
Penelitian Satici dan kolega (2022) menemukan bahwa individu dengan tingkat doomscrolling yang tinggi cenderung mengalami stres lebih besar dan memiliki pola penggunaan media sosial yang bermasalah.
Sementara itu, penelitian lintas budaya oleh Shabahang dkk. (2024) menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam mengenai masa depan, ketidakpastian hidup, hingga makna kehidupan.
American Psychological Association (APA) juga melaporkan bahwa paparan berita negatif secara berlebihan dapat memicu news-related stress atau stres akibat berita yang akhirnya menyebabkan kelelahan mental.
Dampak terhadap Kesehatan Fisik
Efek doomscrolling ternyata tidak berhenti pada kondisi psikologis saja.
Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sambil terus membaca berita negatif dapat memengaruhi kesehatan fisik, seperti:
- Gangguan tidur atau insomnia.
- Mata lelah akibat terlalu lama menatap layar.
- Sakit kepala.
- Tekanan darah meningkat.
- Kelelahan kronis.
- Meningkatnya risiko penyakit jantung akibat stres berkepanjangan.
Kurangnya waktu istirahat juga dapat memicu stres oksidatif di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Doomscrolling?
Sebenarnya siapa pun bisa mengalami doomscrolling. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:
- Orang dengan tingkat kecemasan yang tinggi.
- Mereka yang mengalami fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal informasi.
- Pengguna media sosial yang lebih sering menjadi pembaca pasif tanpa berinteraksi.
- Individu yang kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi situasi penuh tekanan.






