#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Spanyol Menolak Perang

Sánchez juga dengan cerdas membedakan antara sikap terhadap rezim dan sikap terhadap perang. “Persoalannya bukan apakah kita mendukung para ayatollah atau tidak; tidak ada yang mendukung,” katanya. “Persoalannya adalah apakah kita berada di sisi legalitas internasional dan, oleh karena itu, perdamaian.”

Dia juga menegaskan bahwa penolakan terhadap perang bukan berarti dukungan terhadap rezim Iran yang disebutnya “hateful” (penuh kebencian). Pembedaan ini penting karena menjawab kritik bahwa penolakan terhadap perang berarti membela rezim Khamenei. Spanyol menolak rezim Iran, tapi juga menolak cara-cara kekerasan yang melanggar hukum untuk mengubahnya.

Posisi Spanyol ini tidak serta-merta diikuti negara Eropa lain. Inggris di bawah Keir Starmer awalnya ragu-ragu, tapi akhirnya mengizinkan penggunaan pangkalan Diego Garcia setelah serangan balasan Iran mengenai pangkalan Inggris di Siprus. Jerman, melalui Kanselir Friedrich Merz, memilih untuk “tidak menggurui mitra” AS meskipun memiliki keraguan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen hanya menyerukan solusi diplomatik sambil bersiap menghadapi “dampak dari peristiwa terkini” (Guardian, 2 Maret 2026). Sementara pernyataan resmi Uni Eropa pada 1 Maret 2026, meskipun menyerukan “pengendalian maksimum” dan “penghormatan terhadap hukum internasional,” tetap mempertahankan sanksi ekstensif terhadap Iran dan menyebut serangan balasan Iran sebagai “tak termaafkan.” Spanyol berdiri sendiri dalam ketegasannya.

Mungkin menarik kita rujuk pendapat Pablo Simón, ilmuwan politik dari Universitas Carlos III. Dalam pandangan Simón, Sánchez memainkan “peran ksatria Quixote” yang menabrak kincir angin untuk memposisikan diri sebagai pembela multilateralisme di saat popularitasnya sedang rendah. Survei CIS menunjukkan, tiga perempat warga Spanyol memiliki opini “sangat buruk” terhadap Trump, dan 8 dari 10 menganggapnya sebagai ancaman bagi perdamaian dunia.

Dengan kata lain, seperti ini: sikap keras Sánchez terhadap Trump dan perang ini juga merupakan kalkulasi politik yang cerdas di dalam negeri, di tengah tekanan korupsi dan kekalahan di pemilu regional.

Menurut saya, sikap Sánchez ini bukan sekadar oportunisme politik semata dalam konteks Sánchez yang sedang membangun warisan sebagai pemimpin Eropa yang berani mengatakan “tidak” pada saat yang tepat, mirip dengan apa yang dilakukan para pendahulunya dalam momen-momen kritis sejarah Eropa.

Trump merespons keengganan Sánchez dengan ancaman keras. Dia kemudian mengklaim bisa menggunakan pangkalan itu kapan pun tanpa izin Spanyol. “Kita bisa menggunakan pangkalan mereka jika kita mau, kita bisa terbang masuk dan menggunakannya. Tidak ada yang bisa melarang kita,” ujarnya.

Trump juga mengancam akan memberlakukan embargo terhadap Spanyol. Namun Menteri Ekonomi Carlos Cuerpo menegaskan bahwa Madrid tidak menghitung-hitung risiko ekonomi sebelum bersuara: “Spanyol melakukan apa yang dianggap benar dan sesuai dengan hukum internasional.”

Dari sikap Sánchez di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa sikap Spanyol itu membuktikan bahwa negara berdaulat bisa menolak terlibat dalam perang ilegal meskipun harus berhadapan dengan sanksi ekonomi dari sekutunya sendiri. Pangkalan Rota dan Morón yang selama ini menjadi simbol kerja sama militer berubah menjadi instrumen perlawanan diplomatik. Sikap ini menunjukkan bahwa aliansi militer seperti NATO tidak otomatis berarti dukungan tanpa syarat terhadap semua kebijakan AS.

Artinya, di tengah pernyataan Uni Eropa yang masih ambigu, Spanyol memberikan contoh konkret tentang bagaimana “menghormati hukum internasional.” Seperti kata Sánchez, “dunia tidak bisa hanya menyelesaikan masalahnya melalui konflik, melalui bom.” Kita patut angkat topi pada Spanyol! []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button