#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Spanyol Menolak Perang

Oleh: Dr. Yanuardi Syukur, M.Si., Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menolak terlibat dalam perang AS-Israel melawan Iran. “Sikap pemerintah Spanyol dapat diringkas dalam empat kata: tidak untuk perang,” tegasnya dalam konferensi pers (Euronews, 4 Maret 2026). Madrid, olehnya itu, secara resmi memveto penggunaan pangkalan militer bersama di Rota dan Morón untuk kepentingan serangan terhadap Iran. “No to war,” kata Spanyol.

Menyikapi penolakan tersebut, Trump membalas dengan ancaman akan memblokir semua perdagangan dengan Spanyol, dan menyebut pemerintah Spanyol sebagai “terrible” (buruk) dan “tidak bersahabat” (POLITICO, 3 Maret 2026). Sikap Spanyol ini memang ‘berani’ dan kontras dengan pernyataan Uni Eropa yang meskipun menyerukan pengurangan ketegangan, tetap mempertahankan sanksi terhadap Iran dan tidak secara tegas menolak operasi militer AS.

Keputusan veto Spanyol memiliki signifikansi strategis yang tidak bisa diremehkan. Naval Station Rota adalah pangkalan bersama terbesar AS di Spanyol, mencakup lebih dari 6.000 hektare di Teluk Cádiz. Didirikan pada 1953 melalui kesepakatan dengan Jenderal Francisco Franco, pangkalan ini menjadi satu-satunya fasilitas di Mediterania yang mampu mendukung operasi pascapengerahan Amphibious Readiness Group (ARG).

ARG adalah gugus tugas angkatan laut AS yang terdiri dari kapal serbu amfibi, kapal pendarat, dan marinir yang siap dikerahkan untuk operasi pendaratan pasukan di wilayah musuh.

Sedangkan Morón Air Base terletak sekitar 56 kilometer di tenggara kota Sevilla, Spanyol, merupakan pangkalan udara yang digunakan bersama oleh militer Spanyol dan Amerika Serikat, namun berada di bawah komando Spanyol dengan bendera Spanyol yang dikibarkan sebagai simbol kedaulatan.

Pangkalan ini menjadi markas utama bagi Ala 11 (Wing 11) dari Angkatan Udara dan Antariksa Spanyol, sebuah skuadron tempur yang dioperasikan dengan pesawat Eurofighter Typhoon (C.16). Ala 11 sendiri terdiri dari tiga skuadron—yaitu Skuadron 111, 112, dan 113—yang masing-masing diperkirakan mengoperasikan sekitar 16 unit Eurofighter Typhoon, menjadikannya salah satu unit tempur utama Spanyol yang juga aktif dalam berbagai misi NATO dan latihan internasional.

Menteri Pertahanan Margarita Robles menegaskan bahwa pangkalan tidak boleh digunakan kecuali untuk tujuan kemanusiaan. Ini pernyataan yang sangat kita butuhkan di zaman sekarang. Data FlightRadar24 menunjukkan lebih dari selusin pesawat AS—termasuk tanker pengisian bahan bakar KC-135—meninggalkan kedua pangkalan tersebut akhir pekan lalu. Robles menyatakan bahwa AS “mungkin melakukan itu karena tahu pesawat tidak bisa beroperasi” dari Spanyol.

Menurut saya, sikap Spanyol tersebut adalah bentuk perlawanan diplomatik yang cerdas, yakni Spanyol tidak perlu mengusir pangkalan AS, cukup menegaskan batasan hukum penggunaannya, dan konsekuensi logistiknya mengikuti dengan sendirinya.

Sánchez membangun argumennya di atas fondasi hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Spanyol tidak bisa “menanggapi satu pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lainnya.” Menteri Luar Negeri José Manuel Albares memperkuat posisi ini dengan menyatakan bahwa pangkalan Rota dan Morón “tidak akan digunakan untuk apa pun yang tidak tercakup dalam piagam PBB” (Guardian, 2 Maret 2026). Bagi Madrid, serangan sepihak AS-Israel adalah tindakan ilegal yang tidak perlu didukung, terlepas dari siapa pun musuhnya.

Satu hal menarik dalam hal ini adalah bahwa Sánchez secara eksplisit merujuk pada trauma masa lalu Eropa. Ia mengingatkan “kesalahan masa lalu” 23 tahun lalu ketika Spanyol di bawah José María Aznar bergabung dengan George W. Bush dan Tony Blair dalam “Trio Azores” yang menginvasi Irak. Invasi itu dilakukan dengan dalih senjata pemusnah massal (WMD) yang ternyata tidak pernah ada.

“Itu adalah hadiah Trio Azores untuk orang-orang Eropa pada saat itu: dunia yang lebih tidak aman dan kehidupan yang lebih buruk,” kecam Sánchez. Invasi Irak 2003, yang kemudian dinyatakan Kofi Annan sebagai tindakan ilegal, menjadi pelajaran pahit yang tidak ingin diulang Spanyol.

POLITICO mencatat, Sánchez kini berada di posisi yang mirip dengan Jacques Chirac, yang pada 2003 menjadi pemimpin Eropa paling vokal dalam menentang invasi Irak. Sánchez menegaskan bahwa “seseorang harus menentang perang tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB dan Kongres AS.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button