Stiker Sakti Penghapus Kemiskinan
Simbol dan Sanksi Sosial
Di banyak tempat, program pengentasan kemiskinan gagal karena kebocoran data dan penyalahgunaan bansos. Orang kaya bisa ikut menikmati bantuan, sementara yang benar-benar miskin terlewat. Di Kepahiang, persoalan itu dipecahkan dengan stiker: siapa yang masih ingin dicap miskin, silakan tetap di daftar; siapa yang merasa keberatan, boleh keluar sendiri.
Secara tidak sengaja, stiker itu menjadi semacam sanksi sosial—lebih menakutkan dari denda, lebih efektif dari audit. Ia menegakkan hukum sosial berbasis gengsi.
Setelah program itu berjalan, banyak rumah langsung dicat ulang untuk menutupi bekas tulisan merah. Ada pula yang menempel kertas tandingan bertuliskan “Keluarga Mandiri (Tapi Bokek)” atau “Keluarga Hemat Tanpa Bansos.”
Helmi Johan, sang pelopor, kini dikenal sebagian warga sebagai “bapak stiker kemiskinan.” Ia tampak santai menanggapi kontroversi itu. “Tujuan kami hanya agar data lebih valid,” katanya. “Kalau ada efek sosial, itu di luar dugaan.”
Dari Kepahiang untuk Dunia
Entah disadari atau tidak, Kepahiang telah memberi pelajaran baru bagi teori pembangunan: bahwa kemiskinan bisa ditekan bukan hanya lewat ekonomi, tapi lewat psikologi sosial.
Teori itu mungkin tak akan masuk buku Bank Dunia, tapi pasti akan dikenang di warung kopi, di antara tawa getir para pembicara yang menyebutnya “cara paling Indonesia untuk menyelesaikan masalah.”
Kini, warga Kepahiang menjalani babak baru kehidupan sosial: babak gengsi berlapis cat tembok. Mereka belajar satu hal penting—bahwa di negeri ini, kemiskinan bukan hanya soal isi dompet, tapi juga soal reputasi.
Epilog: Stiker, Simbol, dan Sindiran
Jika ada penghargaan untuk inovasi sosial paling ironis tahun ini, Kepahiang patut menjadi nominator. Dalam satu kebijakan sederhana, mereka berhasil “menghapus kemiskinan” secara administratif dan menciptakan teori baru: kemiskinan bisa hilang kalau masyarakatnya malu.
Stiker itu kini jadi legenda kecil di dunia birokrasi. Para pejabat daerah lain mungkin akan tergoda meniru, tapi barangkali lupa satu hal: kemiskinan tidak pernah bisa disembunyikan dengan cat baru atau dicabut seperti stiker. Ia hanya bisa dihapus dengan keadilan dan kesempatan.
Namun di negeri yang kadang lebih percaya pada simbol daripada solusi, kertas berwarna 40 x 50 sentimeter itu telah menunjukkan kekuatannya. Ia tidak menyembuhkan luka sosial, tapi setidaknya membuat kita tertawa getir sambil berpikir: barangkali memang begini caranya kita belajar malu, sebelum belajar adil. []
* Muhibbullah Azfa Manik, Dosen di Padang, Sumatera Barat.






