Teluk di Antara Dua Api
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan pada Kamis (19/3/2026) menandai titik balik dalam hubungan dua rival berat di kawasan Teluk.
“Kepercayaan dengan Iran telah runtuh,” katanya, menyusul serangan-serangan Tehran terhadap negara-negara Teluk yang dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip bertetangga yang baik.
Di tengah gempuran Iran yang terus menghujani negara-negara Teluk, sebuah pertanyaan menggelayut: mengapa mereka diam? Sejak perang meletus, Iran telah meluncurkan setidaknya 1.946 rudal dan drone ke Uni Emirat Arab saja—jauh lebih banyak daripada yang ditembakkan ke Israel. Fasilitas sipil seperti bandara, pelabuhan, hingga kilang minyak menjadi sasaran. Namun hingga kini, tidak satu pun negara Teluk yang membalas.
Dr. Hasan Alhasan, Senior Fellow for Middle East Policy menawarkan jawaban atas paradoks ini. Ia menggambarkan posisi negara-negara Teluk sebagai ‘sekutu yang terjepit’, yakni terjepit antara kebutuhan merespons agresi dan ketakutan akan eskalasi lebih lanjut (IISS, 16 Maret 2026).
Iran Salah Langkah?
Pangeran Faisal menegaskan bahwa Tehran salah perhitungan jika mengira negara-negara Teluk tidak mampu merespons. Pernyataan ini keluar setelah Iran memperingatkan Saudi, Qatar, dan UEA untuk mengevakuasi fasilitas energi mereka, mengindikasikan serangan yang akan datang. Target-target yang disebut seperti Samref Refinery di Saudi, Al Hosn Gas Field di UEA, serta kompleks petrokimia di Mesaieed dan Ras Laffan di Qatar adalah jantung ekonomi negara-negara Teluk.
Serangan Israel terhadap ladang gas South Pars (18/3/2026) yang dilakukan dengan koordinasi AS, dan ancaman balasan Iran terhadap fasilitas energi tetangga, menunjukkan eskalasi berbahaya. Iran seolah lupa bahwa negara-negara Teluk, meski tidak terlibat langsung dalam perang, memiliki hak untuk membela diri. Dengan menyerang infrastruktur sipil, Tehran justru memberikan pembenaran bagi negara-negara Teluk untuk mengambil tindakan balasan. Namun hingga kini, balasan itu tidak kunjung tiba.
Ketidakpercayaan pada Amerika
Salah satu faktor utama yang melumpuhkan respons Teluk adalah runtuhnya kepercayaan pada Amerika. Trump telah mengubah-ubah tujuan perangnya, membuat sekutu tidak bisa memprediksi berapa lama konflik akan berlangsung. Yang lebih mengkhawatirkan, negara-negara Teluk khawatir jika mereka bergabung, Trump akan tiba-tiba menarik diri, meninggalkan mereka sendirian menghadapi amukan Iran.
Pengalaman Afghanistan dan janji-janji Amerika yang tidak ditepati masih membekas. Ketika Lindsey Graham mengancam akan ada ‘konsekuensi’ jika mereka tidak bergabung, negara-negara Teluk justru semakin menjauh. Mereka lebih memilih pertahanan kolektif GCC daripada menjadi alat dalam perang yang tidak mereka dukung. Qatar dan UEA bahkan mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan terhadap fasilitas energi Iran, menyebutnya sebagai ‘eskalasi berbahaya’ yang mengancam keamanan energi global. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mencoba bermain di dua sisi: melindungi diri dari serangan Iran sambil tetap menjaga jarak dari perang AS-Israel yang tidak mereka dukung.
Ketakutan akan Eskalasi
Iran mungkin mengurangi volume serangannya, tetapi masih memiliki ribuan drone yang siap diluncurkan. Yang lebih mengancam, jika negara-negara Teluk membalas, Iran bisa memobilisasi Houthi untuk kembali menyerang Laut Merah, menciptakan blokade ganda di Hormuz dan Bab el-Mandeb. Atau lebih buruk, menyerang instalasi vital seperti pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air.
Saudi dan UEA telah membangun ekonomi mereka di atas reputasi stabilitas. Jika perang total meletus, mereka lebih banyak kehilangan daripada Iran dengan ekonomi resistensinya. Seperti dicatat Alhasan, negara-negara Teluk tidak sejalan dengan tujuan maksimalis AS-Israel untuk menjatuhkan rezim Iran. Negara dengan 90 juta jiwa dan minoritas etnis yang rapuh jika runtuh justru akan menjadi sumber ketidakstabilan abadi di perbatasan mereka.
Pilihan Rasional di Tengah Irasionalitas
Pada akhirnya, memilih diam adalah keputusan rasional di tengah perang yang irasional. Negara-negara Teluk tidak ingin menjadi pion dalam permainan catur geopolitik yang tidak mereka kendalikan. Mereka akan terus bertahan, mengandalkan pertahanan udara dan koordinasi regional, sambil berharap badai segera berlalu.
Seperti dikatakan Alhasan, “Beban kini ada pada AS, yang memulai perang ini bersama Israel, untuk mengamankan dan memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz—atau mengakhiri perang.” Sampai salah satu terjadi, negara-negara Teluk akan tetap duduk di pinggir, menonton dari kejauhan, meski api terus membakar halaman rumah mereka.
Pada akhirnya, pilihan untuk diam adalah cermin dari realitas pahit yang dihadapi negara-negara Teluk. Mereka menyaksikan rumah mereka terbakar, tetapi tidak memiliki kepercayaan pada pemadam kebakaran yang menawarkan bantuan. Mereka mendengar ancaman dari Iran, tetapi lebih takut pada konsekuensi jika mereka melawan.
Di saat Amerika dan Israel sibuk menghitung kemenangan militer, negara-negara Teluk sibuk menghitung kerugian yang masih bisa mereka hindari. Dan di dalam diam mereka, tersimpan pesan paling keras bahwa di era di mana ‘sekutu bisa menjadi beban’ dan ‘musuh bisa menjadi tetangga’, bertahan hidup adalah kemenangan yang paling nyata.[]






