Tiga Tahun Genosida, Bantuan Militer AS ke Israel Terus Berlangsung
WASHINGTON, DC (Suaraislam.id)— Tiga tahun sejak perang genosida Israel di Gaza meletus, sedikit sekali perubahan yang terjadi dalam hal dukungan resmi dari Amerika Serikat.
Pemerintah di Washington, di bawah mantan Presiden Joe Biden maupun Presiden saat ini Donald Trump, terus memberikan bantuan militer hampir tanpa syarat kepada Israel sejak 7 Oktober 2023. Dukungan ini tetap mengalir meskipun kawasan tersebut telah bereskalasi menjadi konflik yang lebih luas, termasuk perang AS-Israel melawan Iran.
Dukungan AS tetap bertahan bahkan dalam periode ketika pemerintah memberikan kritik lunak terhadap serangan militer Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gaza. Kritik tersebut juga dilayangkan atas pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata tahun lalu, serta hambatan menuju perdamaian di kawasan Palestina dan sekitarnya.
Hingga saat ini, sedikitnya 74.243 warga Palestina telah gugur di Gaza sejak serangan pimpinan Hamas ke Israel selatan yang menewaskan sedikitnya 1.139 jiwa. Sekurang-kurangnya 1.460 warga Palestina tewas di Gaza sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025 berlaku, seiring langkah Israel meluaskan area kendalinya.
Intinya adalah, di bawah pemerintahan Biden maupun Trump, AS terus memberikan dukungan tanpa syarat untuk Israel, baik dalam bentuk finansial, pengiriman senjata, maupun dukungan diplomatik, papar mantan pejabat Department of State, Josh Paul, yang kini memimpin firma A New Policy.
Itu belum memperhitungkan biaya perang AS di kawasan, yang pemicunya sebagian besar disebabkan oleh dukungan kita terhadap Israel dan tindakan Israel sendiri, tambahnya.
Bantuan Militer
Selama berdekade-dekade, Amerika Serikat telah memberikan bantuan militer berskala besar dan akses khusus ke persenjataan AS. Washington mengucurkan hampir $300 miliar bantuan sejak pendudukan tahun 1948 setelah disesuaikan dengan inflasi, jumlah terbesar dibanding negara manapun.
Washington telah berulang kali mengkodifikasi dukungan untuk Israel, terutama melalui undang-undang tahun 2008 yang mewajibkan pemerintah AS memastikan Israel mempertahankan apa yang disebut Qualitative Military Edge atas negara-negara tetangganya.
Oleh karena itu, militer Israel tetap sangat terikat dengan pemerintah AS dan senjata buatan AS. Israel mengandalkan pasokan tersebut untuk angkatan udara, amunisi mematikan, tank, kendaraan militer, serta sistem pertahanan udara seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Iron Beam.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, telah berulang kali menghubungkan senjata buatan AS dengan pembunuhan warga sipil di Gaza dan kawasan sekitar, kendati Israel menghalangi pemantau independen memasuki wilayah Palestina tersebut.
Karena Gaza adalah sebuah genosida dan AS telah memasok begitu banyak persenjataan, tidak ada jalan untuk membohongi kenyataan bahwa AS memikul tanggung jawab, kata William Hartung, analis pertahanan yang meneliti bantuan AS-Israel, kepada Al Jazeera.
Sejak 7 Oktober 2023, AS telah menyediakan sedikitnya $25,5 miliar alokasi dana untuk Israel, yang berasal langsung dari kas negara yang dibiayai oleh pembayar pajak AS.
Bentuk dukungan militer AS yang paling langsung berasal dari alokasi anggaran pemerintah untuk Israel, yang bernilai $3,8 miliar per tahun di bawah nota kesepahaman 10 tahun yang ditandatangani pemerintahan Presiden Barack Obama pada tahun 2016.






