Pelanggaran Prosedur Dapur SPPG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyebut keracunan massal ini terjadi akibat pelanggaran prosedur pengelola dapur. Catatan dapur menunjukkan pengelola mulai memasak terlalu cepat.
“Mereka memulai masaknya kecepatan. Jam 19.00 atau 19.30 hari sebelumnya, untuk diberikan pada hari berikutnya jam 11.00,” kata Sudaryono di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (05/08).
Polres Jayapura telah memeriksa 30 orang yang mengoperasikan dapur SPPG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.
Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang dipimpin Edison Awoitauw, telah meminta maaf atas musibah ini. Yayasan ini baru saja pertama kali menyalurkan menu MBG di Jayapura pada 14 April 2025.
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menjenguk para korban dan meminta pelaksana program MBG melakukan evaluasi besar-besaran.
“Ini harus menjadi evaluasi terbesar untuk pengelola MBG sendiri…tidak sekedar uang yang dikejar, tapi keamanan, kebersihan itu harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
“Uang itu kita bisa dapat di mana saja, tapi bagaimana keselamatan anak-anak ini?” kata Yunus.
Yayasan Kasih Iman Samuel Papua menyatakan menanggung biaya pengobatan seluruh siswa yang sakit. Yansen Marudut, advokat yang mewakili yayasan, bilang pihak yayasan akan mengikuti investigasi kepolisian dan BGN.
“Kami pasti menyiapkan dua sampel setiap hari, sesuai standarisasi BGN, untuk pembuktian ketika terjadi persoalan,” kata Yansen.
Sejak Januari 2025 hingga April 2026 setidaknya 33.626 pelajar di berbagai daerah telah mengalami keracunan MBG, menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia. []
Sumber: BBC News Indonesia






