Papua (Suaraislam.id) — Ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura, Papua, dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan sejak Selasa (04/08) hingga Rabu (05/08) kemarin. Sebelum keracunan massal terjadi, mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur milik yayasan pimpinan Ketua DPC Partai Gerindra Jayapura, Edison Awoitauw.
Dominggas, warga Distrik Depapre, menceritakan pengalaman pahit cucunya yang masih PAUD. Hari itu, mobil pengantar MBG baru tiba setelah jam belajar-mengajar berakhir, sehingga anak-anak kembali ke sekolah untuk mengambil piring.
“Anak-anak sudah pulang, MBG baru masuk. Anak-anak bawa piring, datang lagi ke sekolah,” kata Dominggas, saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari.
Malam harinya, cucu Dominggas mulai sakit dengan kepala pusing dan berat. Meski Dominggas mencoba mengobati sendiri dengan air kelapa dan pepaya di rumah, kondisi cucunya tidak kunjung sembuh.
Esok harinya, Dominggas membawa cucunya ke RSUD Yowari. Anak tersebut menolak infus dan menyatakan trauma memakan paket MBG itu.
“’Nenek, saya tidak mau makan MBG lagi’,” ujar Dominggas menirukan ucapan cucunya.
Cucu Dominggas adalah satu dari ratusan pelajar di Depapre yang keracunan. Sejak Selasa tengah malam, ambulans hilir mudik membawa para pelajar ke Sentani, distrik di pusat Jayapura.
Dominggas sendiri mengaku selama ini melarang cucunya mengonsumsi MBG dan hanya membawa pulang makanan yang masih layak konsumsi.
“Ada singkong yang sudah mau busuk. Saya tahu cara masak, jadi yang saya punya masih lebih bagus. Ini seperti kasih makan binatang dalam kandang,” kata Dominggas.
Dominggas berkata, cucunya akhirnya memang enggan menyantap MBG. “Kami berdua kasih makan itu untuk kami punya anjing di rumah,” ujarnya.
‘Warna tempenya beda’
Sophia, guru sekolah dasar di Kampung Amai, Depapre, juga tampak lemas usai menyantap paket MBG. Sekolahnya menerima paket berupa nasi, tempe, dan sayur, namun ada yang janggal.
“Warna tempenya berbeda dengan yang sebelumnya. Itu yang mungkin bikin kami seperti begini,” kata Sophia.
Sophia dan murid-muridnya mengalami pusing dan sakit perut usai makan. Awalnya Sophia menganggap kondisi itu biasa, namun akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke RSUD Yowari.
Pelajar di SMP Dormena, Depapre, juga merasakan perut “berputar-putar, mual, dan tak bisa buang air besar”.
Helmina, ibunya, bilang kondisi itu memburuk Rabu pagi. Helmina membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.






